Matamu

Matamu, ku cari tempat dimana sebuah penyesalan bersemayam.

adakah disitu?

matamu, kucari teduh yang dulu kukira itu cinta

tapi nyata aku keliru


Jatuh

ber kali kali

dalam matamu yang candu

aku tertipu oleh egoku

terbiar kunci terlepas

Ketika ketukanmu datang

berkali-kali

mataku jatuh ke dalam matamu


Lalu kubiar rindu yang menggunung

agar kau menuju bahagiamu


Semesta menyayangimu

bukan aku

 Indonesia, 22 Agustus 2022 10:30 PM


@Nauna Jf. 


Untuk kamu

Untuk kamu yang sudah berbahagia dengan kehidupan mu.

Terimakasih sudah berjuang untuk dirimu sendiri. 

dan untuk orang2 yang benar2 kamu cintai dan mencintaimu. Dan buat yang belum bisa menata hati dan perasaan.

Its oke. Ngak apa2, jangan menyerah. tetap bertahan. walaupun 1 menit yang kamu berikan menjadi 1 jam, 1 jam menjadi 1 hari, 1 hari menjadi satu tahun dan seterusnya .

nga apa2. One day, kamu juga akan tiba disebuah titik dimana kamu akan merasa ‘ haaa” lega. Ini diluar ekspektasi.  “bahwa kebahagian itu ada buat semua orang” hanya waktunya aja berbeda-beda.

Dan Ketika one day itu datang, kamu akan menjadi orang yang benar2 berbahagia.

Jangan menyerah, jang lupa memeluk diri. Happy

Matamu

Matamu.. 

Candu, tapi merusak kalbu.

Kamu tau apa yang telah ku tembusi ketika melihat matamu pertama kali???

Kedua kali??

Ketiga kali??

Dan kesekian kalinya???

"Sebuah rahasia"


Ah, aku juga punya rahasia.

Matanya. Aku melihat matanya. 

Mata yang kali terakhir aku tatap sebelum membulatkan tekadku. 


Ah, kau pasti tidak tau bagimana aku bisa menembusi sepasang mata itu.

Itu tepat dihadapanku. 

Jaraknya sangat dekat

Sehasta?

Sejengkal?

Ah, tidak.. lebih dekat.

dan itu menyakitkan.

Karena setelah itu aku bisa menembus mata ku sendiri. 

Indonesia, 20 Maret 2021


@Nauna Jf.



Sederas Rindu Yang Menderu

Kita adalah riuh dalam diam

Konsonan vokal yang menari-nari liar

Amunisi amunisi kata yang tak bersuara

Saling Beradu aksara dan bertempur diam diam

Dan sajak sajak luka masih saja terbiar

Terkapar dalam rindu yang kian mengakar.

Indonesia, 28 Juli 2022

@Nauna Jf.

 
Mencintaimu adalah aksi tersadis yang pernah aku lakukan. 
Tidak pernah bisa kugenggam tapi menusuk begitu dalam.

@Nauna Jf.


"Sebuah rela yang tidak ikhlas. Adalah melepas yang ingin digenggam dengan erat" 

@Nauna Jf.

T.U.L.U.S

 

Katanya, jika kita menginginkan sesuatu dari dasar hati yang terdalam, seisi alam akan membantu kita untuk mendapatkannya karena ketulusan yang kita pancarkan begitu kuat.

Lalu, jika seisi alam menentang, apakah aku kurang tulus? Atau kamu? Atau kita?

Eumm.. “TULUS”. Hoax. It’s just a word, T.U.L.U.S. Just Go. Terbang. Bebas. Aku tidak akan mengajakmu. Kita akan terbang dengan sayap yang kita pintal masing-masing. Lalu aku atau kamu akan menukik dengan luka masing-masing.. lalu tertawa bersama lelucon konyol yang pernah kita tangisi dulu.

@Nauna Jf.


"Kita terlalu sering lupa, bahwa kita adalah impuls eksternal terkuat yg menyebabkan perubahan seseorang. Dan suatu ketika kita akan menyalahkan perubahan itu dan melupakan penyebabnya" 

@Nauna Jf.

Rindu ini sesak


Rinduku tidak pernah berhenti bergejolak.

Dan cangkirku telah penuh sesak

Tumpah ruah dengan imaji tentangmu, hanya tentangmu.

Haruskah kutumpahkan semua hingga tak bersisa?

Kupecakan saja bersama cangkirnya.

Biar senyap lenyap sekejap,

Dan rinduku mati terkapar bersama pecahan yang berserak

Seraya menikmati tawamu di ujung senja ini

@secangkir_hujan

Pulang

 

Dik, kita tanpa mitsaqan ghalizhan adalah usang yang akan terbuang di akhir senja yang menangkan. 

Maka beranjaklah walau berat menahan rindu dan hinaan. 

Karna cinta, rayuan dan sentuhan hanyalah semu tanpa ada ikatan yang menjanjikan. 


Tidak mengapa menahan pedih berkesendirian. 

Karena pulangmu adalah rumah yang sebenarnya.

Karena tibamu adalah datang yang paling dinantikan.


Perihal tersesatmu itu tidaklah mengapa

Sekarang, berjalanlah walaupun gontai

Selama oksigen masih mampu kau hirup

Kamu masih punya peluang berjuang mencari jalan pulang

Tidak mengapa terlambat, 

Asal langkahmu sudah kau tetapkan, bismillah kan lah.

Maka IA akan menyabutmu dengan kehangatan..

Indonesia, 19 Juni 2022


@Nauna Jf.



Hai Rindu..

 

Sebuah rindu dalam diam 

yang berkamuflase bersama rintik yang menghujan. 

Selamat malam jiwa-jiwa yang kesepian


Secangkir Hujan, 18 Mei 2022

Ialah Pasir


Ialah pasir yang ingin erat ku genggam.
Berjatuhan melewati pengharapan.

Semilir angin terus membisik "Sudahlah... Ini hanya kesia siaan. Biarkan aku meniupnya ketempat asal. Hapus tanganmu dan berjalanlah. Pulang."

Secangkir Hujan, 09 Juni 2022



Kill me, Heal me


Lelah.

Cuma itu alasannya. 

Aku tidak tau bagaimana harus menjelaskan nya.

Menjadi lebih sensi dengan hal sekecil apapun, membuat hati, fikiran dan fisik kian melemah.

Tangan dan kaki yang seketika sejuk menjadi kaku dan terasa benar2 menyakitkan. Dengan isi kepala yang terus menerus mengutuk diri.

Ia, aku sadar cukup sadar.

Bahwa aku tengah berada dititik paling rendah secara emosional.

Aku ingin berlari menjauh dari segala hal. Mengurung dan mengunci diriku. Tidak ingin seorangpun melihat, mencari, atau sekedar melirik.

Tidak. Aku butuh. Aku butuh seseorang untuk mengerti. Seseorang yang ikhlas memeluk dan meyakinkan "aku bersamamu". Tapi aku sadar, seseorang yang terus berkubang dengan Anxiety Disorder sangat sulit dimengerti oleh mereka yang "waras". 

Ini berat. Aku mulai menunjukkan luapan emosi yang kata mereka "mengalahi" letusan krakatau. Dan kali berikutnya aku bisa mencapai dasar bumi paling rendah. Seakan2 kematian adalah ekspektasi yang wajib aku dapati. Aku ingin seseorang membunuhku, jika tidak maka bantulah aku.


Secangkir Hujan, 04 Juni 2022


Diluar jangkauan

Perempuan itu berjalan cepat, mengimbangi gadis kecil didepannya. Beberapa hari membunuh penat dengan kebahagian kecil yang direngek rengekkan gadis kecil itu. Penat Langkah, kaki mulai bergetar hebat, namun ia tahan. Setidaknya dia juga dapat imbas dari kebahagian itu.

Sedikit lagi, setidaknya didepan ada kios yang akan meredakan haus begitu pikirnya. Tapi nihil, terlalu pagi untuk mengharapkan sebotol air dari kios dipinggiran. Rasanya ingin berhenti sejenak, tapi urung. 

Dia, perempuan itu melihatnya. Dengan cepat rindu merayap, ingin menyapa, dengan dalih apa saja terserah, pikirnya. Tapi urung, ia kembali mengajak gadis kecil itu berlari. Mari kita berteduh di gubuk ditengah sawah itu.


Kepada sebuah temu yang tak mungkin. Menatapmu memperparah ekspektasi.


Secangkir Hujan, 2022

Menunggu


“Kamu tau artinya menunggu?” tatap sepasang mata sayu dibalik cermin buram itu.  Berulang kali ditengah malam dengan tanya yang berujung diam, kelelahan dengan rindu yang bertahun-tahun dipendam.

Yang aku tau aku seperti berada diruang gelap dengan kaki dan tangan terlilit rantai besi, mulut terkunci dengan fikiran yang saling beradu isak, menahan rindu dengan harapan yang aku tau itu “semu”, kataku suatu Ketika.

Aku selalu tau, aku hanya “bayangan” yang akan lenyap ketika pagi datang. Lantas aku tidak punya hak mencaci mentari.

Aku hanya rasa yang terpinggirkan untuk rasa yang lebih menyinarinya.

Entahlah, aku hanya bisa melihatnya dari jauh sembari menikmati secangkir hujan dibawah langit mendung, berkamuflase dengan derasnya dan menampungnya kedalam cangkir kerinduan. 

Lantas, bagaimana denganmu?

Ya, Kau dan aku sama

Maka mari kita bunuh rindu ini sampai ia tau, bahwa kau dan aku, perempuan di dalam cermin ini pernah menunggu untuk memilikinya seutuhnya.

Secangkir Hujan, 2021 

Langit

Langit itu begitu kuat

Menggigil ku melihat

        Begitu dekat

        Kutatap lekat lekat

Ternyata langit itu bersekat

Sekat yang yang begitu pekat


          Ah, Langit itu begitu hebat


Tanpa kata aku membatu

Tuhan, rasanya aku membeku


          Ah, Aku harus segera beranjak


Secangkir Hujan, 2021

0 Day

Dan akhirnya daun ini gugur.. Daun yang ribuan hari ku nanti ia menguning dan lekas terbang dibawa angin. Dengan harapan daun yang tersisa segera lenyap bersama akar-akarnya. 

Kepadaku yang menyianyiakan hari, bisakah sehari memberi arti kepada nyawa yang gratis ini? Sebelum tiba seluruh daun gugur bersamaan, bukan pada batas waktu alaminya. Sebelum tiba waktu tangisan abadi yang tidak akan ada sesiapapun mampu menyekanya. Sebelum tiba waktu penyesalan yang lebih sesal dari hari ini. 

Bisakah aku berhenti mencintai sang fana dan kembali mencintai sang kekal?

Bisakah sehari saja aku menstabilkan hati dan fikiran yang kerab ricuh dengan hal-hal yang tidak berguna. 

Bisakah amarah ku bungkam dengan tulus dan ikhlas memaafkan diri.

Sehari saja, menjadi hamba yang menghargai hembusan nafas, detik dan menit yang cuma-cuma ini.      


Secangkir Hujan, 17 Maret 2022

Penyesalan

Hawa lembab ketika gerimis itu mulai gugur

Membuat detik demi detik mengembun 

terpercik kemana-mana

Sang waktu kian menguap

terbang

dibawa udara dingin

Sambil bernyanyi dengan suara bening 

bermuatan harumnya cahaya...


Secangkir Hujan, 2008

Sebuah Kenang oleh Sang Gerimis

Gerimis ini 
        Tak pernah manis
Gerimis ini 
        Semakin sadis
Gerimis ini 
        Masih menyisakan tangis
Gerimis ini 
        Takkan pernah habis
Gerimis ini 
        Membuat hati kian teriris
Dan Gerimis ini 
        Yang membuatku bengis

Secangkir Hujan, 16 Januari 2008



Sang gerimis. senior, murid pindahan. Sosok awut-awutan dengan seragam sekolah khas anak-anak genk. Baju dalaman hitam dengan topi  kerennya. Wajahnya bulat putih, cukup tanpan menurutku waktu itu. Tapi sayang, satu tim dengan senior-senior sangar. sering bermasalah dengan guru-guru, tapi lebih pendiam dan cuek ketimbang teman segenknya yang ganas dan doyan menganggu anak perempuan. Dan ya, ada yang beda dari rautnya. itu sering membuat ku penasaran. pembawaannya dingin, tapi tiap berpas-pasan selalu sopan dengan ku. Ada beberapa moment yang membuatku mengkhawatirkannya. Sampai akhirnya dia menghilang. entah kemana. Dan itu cukup membuatku kesal. why? entah. Semoga one day bisa berjumpa.



Senja

Pada semesta ku berkata
aku tidak akan pernah meminta langit berbagi senja
kerna senja dan langit adalah takdir semesta
licik dan egoku telah kuhempas sebisaku...
maka ijinkanlah aku menjadi pengagum senja
yang hanya menatap di singkat waktunya

Secangkir Hujan, 20 April 2021

Senja

Kutatap senja lekat
Jingganya menghangatkan luka
Begitu syadu dan nyaman di pelupuk
Semburatnya merayu dan mencumbu retina
Sejenak licikku pun berbisik
"ingin kurebut senja dari langit"

Namun langit tetaplah sang pemilik
Senja selalu datang dan langit akan membawanya pergi
Begitu terus berulang-ulang

Hingga egoku semakin berantakan
Dan rindu semakin tak tertahankan
Berharap langit adalah aku
dan senja adalah segalaku

Lalu semesta menamparku dengan keras
Karena picikku begitu dalam
Hingga aku pun tersadar
Berharap Senja terlalu sangat
Adalah hal mustahil yang pernah terlintas

Secangkir Hujan, 19 April 2021


Maafkanlah

 "Jembatan Penghubung Negeri Ilusi"

Kepada perempuan yang menanti sebuah kata "Ma'af"

Berhentilah, Hari sudah senja


Secangkir Hujan, 16 Januari 2022


Maling Hati Generasi Penerus

 

Kita adalah asing yang saling menyatu, 

lalu mencipta bising dengan ego masing-masing.

Menggenggam kotak pandora dihati masing-masing, 

enggan bersuara namun saling nyaring.  

Dan pada akhirnya kita hanyalah maling.

"Maling Hati Generasi Penerus"


Secangkir Hujan, 14 Januari 2022

Entri yang Diunggulkan

Trio Pluviophile

Mungkin hujan mampu mengkamuflasekan air matamu, tapi hujan tidak akan pernah mengkamuflasekan tawa diwajahmu._Una JF. Mendung men...