"RAIN"
Hidup adalah beku, serupa bongkahan es yang keras
membatu, yang bisa saja mencair sewaktu-waktu dan jatuh menikam kesegala
penjuru. Begitu pula aku saat itu. Rain, apa kabarmu? Apa binar matamu masih
seperti dulu? Apa senyum ceriamu masih seperti kala itu? Segala tentangmu
membelengguku tak menentu.
Tanpa kuduga gerimis turun. Aku tetap mematung.
Membiarkan tetesannya membasahi sekujur tubuhku. Seperti dirimu dulu. Aku
memejamkan mataku, mencoba menikmati alunan
merdu dari atap langit dan bau khas tanah yang begitu menyengat.
Jantungku berdetak hebat. Nuansamu menyelimutiku. Aku menjerit.
Suaraku menghantam langit dan hamparan riak di hadapku. Aku berlari menyelusuri
gelombang. Terdiam. Aku hanya termangu di tengah gerimis. “Rain, tahukah kau? Bagiku gerimis sama seperti
dirimu. Sesuatu yang awalnya ku benci namun akhirnya kuncintai. Rain, bersama
gerimis aku menangisimu..
***
Rain, kau ingat? Dulu aku suka sendiri. Tidak suka jika ada orang lain
yang ikut campur urusanku. Yah, itulah aku. Gadis yang terlahir tak ada bedanya
dari gadis pada umumnya. Punya kaki, tangan, kepala, badan, lengkap dan begitu
sempurna dengan bola mata yang cantik memukau. Tapi sakit ini membuat ia
dipenuhi dengan kebencian.
Aku hidup dengan sesosok lelaki yang biasanya disebut, ayah. Dan aku
selalu mencoba untuk berlari darinya. Ia seperti serigala bagiku, serigala yang
membesarkan aku dengan memar-memar biru disekujur tubuhku. Tongkat kayu dan
pukulan alkohol itu. “Akh, aku muak. Aku benci. Semua itu menghantamku dan
membuatku keras dan beku. Begitu dingin hingga aku sendiri menggigil. Dan kali
ini, ia akan menjualku. Hanya demi setumpuk uang dan kesenangan sesaat. Aku
berharap ibuku datang menolong, tapi justru ia yang membuat ayah menjadi
serigala ganas. Ia pergi dengan lelaki kaya yang bisa memberikan segalanya dan
aku menjadi sasaran empuk, pelampiasan amarah ayah. Beruntung aku tidak
dimangsanya bulat-bulat, dimutilasi atau apalah itu namanya aku tak tau. Yang
aku tau bahwa aku masih tetap hidup dan selalu mencoba untuk kabur. Meskipun
pada akhirnya aku tertangkap.
***
Disini aku sekarang, disuatu tempat yang aku sendiri tak tau dimana.
Penglihatanku sengaja ditutupi, tidak memungkinkan untuk mengetahui aku dimana.
Ah, ini gila. Tanganku terikat begitu erat. Ketakutan pelan-pelan menjalariku. Seseorang
menyeretku paksa. Aku memberontak ,mencoba berlari namun percuma. Bagiamana
mungkin aku berlari dengan mata yang tertutup rapat. Ah, tololnya aku. Kurasa
sebuah tangan kekar merengkuh tubuhku, seringai tajamnya membuatku ingin
muntah. Jijik. Aku meronta, menjerit sekuat-kuatnya. Tiba-tiba sebuah tamparan
gratis melayang mulus di pipiku. Dan semua gelap.
Saat terbangun, kudapati diriku
berada di sebuah ruangan gelap yang terkunci. Kekesalanku menjadi-jadi.
Kugedor-gedor paksa pintu kayu itu, berharap gemboknya hancur berkeping-keping.
Sebuah tangan menyentuh pundakku lembut. Aku terkejut dan menepisnya. Terlihat
seorang gadis yang usianya mungkin lebih tua dariku. Ia hanya tersenyum miris.
“percuma saja. Kita tak akan bisa kabur dari sini. Besok lusa mungkin kita akan
di kirim ke luar negeri,” ucapnya begitu saja.
“jadi pelacur di negeri orang. Haha, menyedihkan bukan?,’ timpal
seorang gadis lain. Ternyata aku tidak sendiri disini. Mereka senasib denganku.
“sudahlah. Setidaknya mereka tidak memutilasi kita.”
“hah?? Tidak memutilasi katamu?! Justru mereka sedang memutilasi kita.
Memang bukan tubuh kita, tapi harga diri kita,” balas gadis lainnya dengan
sengit namun terdengan menyayat. Danau dimatanya mulai meluap. Hening menguasai
ruangan gelap ini. Menambah ketakutan penghuninya. Aku terduduk pasrah,
kujambak rambutku kesal. Aku harus keluar dari sini. Bagaimanapun caranya. Aku
harus kabur. Harus.
"Secangkir Hujan"
No comments:
Post a Comment