RAIN PART 1


"RAIN"



Hidup adalah beku, serupa bongkahan es yang keras membatu, yang bisa saja mencair sewaktu-waktu dan jatuh menikam kesegala penjuru. Begitu pula aku saat itu. Rain, apa kabarmu? Apa binar matamu masih seperti dulu? Apa senyum ceriamu masih seperti kala itu? Segala tentangmu membelengguku tak menentu.
Tanpa kuduga gerimis turun. Aku tetap mematung. Membiarkan tetesannya membasahi sekujur tubuhku. Seperti dirimu dulu. Aku memejamkan  mataku, mencoba menikmati alunan merdu dari atap langit dan bau khas tanah yang begitu menyengat.

Jantungku berdetak hebat. Nuansamu menyelimutiku. Aku menjerit. Suaraku menghantam langit dan hamparan riak di hadapku. Aku berlari menyelusuri gelombang. Terdiam. Aku hanya termangu di tengah gerimis. “Rain,  tahukah kau? Bagiku gerimis sama seperti dirimu. Sesuatu yang awalnya ku benci namun akhirnya kuncintai. Rain, bersama gerimis aku menangisimu..
 ***
 
Rain, kau ingat? Dulu aku suka sendiri. Tidak suka jika ada orang lain yang ikut campur urusanku. Yah, itulah aku. Gadis yang terlahir tak ada bedanya dari gadis pada umumnya. Punya kaki, tangan, kepala, badan, lengkap dan begitu sempurna dengan bola mata yang cantik memukau. Tapi sakit ini membuat ia dipenuhi dengan kebencian.

Aku hidup dengan sesosok lelaki yang biasanya disebut, ayah. Dan aku selalu mencoba untuk berlari darinya. Ia seperti serigala bagiku, serigala yang membesarkan aku dengan memar-memar biru disekujur tubuhku. Tongkat kayu dan pukulan alkohol itu. “Akh, aku muak. Aku benci. Semua itu menghantamku dan membuatku keras dan beku. Begitu dingin hingga aku sendiri menggigil. Dan kali ini, ia akan menjualku. Hanya demi setumpuk uang dan kesenangan sesaat. Aku berharap ibuku datang menolong, tapi justru ia yang membuat ayah menjadi serigala ganas. Ia pergi dengan lelaki kaya yang bisa memberikan segalanya dan aku menjadi sasaran empuk, pelampiasan amarah ayah. Beruntung aku tidak dimangsanya bulat-bulat, dimutilasi atau apalah itu namanya aku tak tau. Yang aku tau bahwa aku masih tetap hidup dan selalu mencoba untuk kabur. Meskipun pada akhirnya aku tertangkap.
***
Disini aku sekarang, disuatu tempat yang aku sendiri tak tau dimana. Penglihatanku sengaja ditutupi, tidak memungkinkan untuk mengetahui aku dimana. Ah, ini gila. Tanganku terikat begitu erat. Ketakutan pelan-pelan menjalariku. Seseorang menyeretku paksa. Aku memberontak ,mencoba berlari namun percuma. Bagiamana mungkin aku berlari dengan mata yang tertutup rapat. Ah, tololnya aku. Kurasa sebuah tangan kekar merengkuh tubuhku, seringai tajamnya membuatku ingin muntah. Jijik. Aku meronta, menjerit sekuat-kuatnya. Tiba-tiba sebuah tamparan gratis melayang mulus di pipiku. Dan semua gelap.

Saat terbangun, kudapati  diriku berada di sebuah ruangan gelap yang terkunci. Kekesalanku menjadi-jadi. Kugedor-gedor paksa pintu kayu itu, berharap gemboknya hancur berkeping-keping. Sebuah tangan menyentuh pundakku lembut. Aku terkejut dan menepisnya. Terlihat seorang gadis yang usianya mungkin lebih tua dariku. Ia hanya tersenyum miris. “percuma saja. Kita tak akan bisa kabur dari sini. Besok lusa mungkin kita akan di kirim ke luar negeri,” ucapnya begitu saja.
“jadi pelacur di negeri orang. Haha, menyedihkan bukan?,’ timpal seorang gadis lain. Ternyata aku tidak sendiri disini. Mereka senasib denganku.
“sudahlah. Setidaknya mereka tidak memutilasi kita.”

“hah?? Tidak memutilasi katamu?! Justru mereka sedang memutilasi kita. Memang bukan tubuh kita, tapi harga diri kita,” balas gadis lainnya dengan sengit namun terdengan menyayat. Danau dimatanya mulai meluap. Hening menguasai ruangan gelap ini. Menambah ketakutan penghuninya. Aku terduduk pasrah, kujambak rambutku kesal. Aku harus keluar dari sini. Bagaimanapun caranya. Aku harus kabur. Harus.



"Secangkir Hujan"

No comments:

Entri yang Diunggulkan

Trio Pluviophile

Mungkin hujan mampu mengkamuflasekan air matamu, tapi hujan tidak akan pernah mengkamuflasekan tawa diwajahmu._Una JF. Mendung men...