BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sistem
saraf merupakan suatu struktur yang
paling sempurna yang dimiliki oleh manusia. Sistem saraf dapat diibaratkan
seperti halnya jalan darat yang ada di suatu kota. Dimulai dari jalan utama,
jalan-jalan kecil, dan jalan-jalan layang, serta jembatan penyebrangan yang
merupakan pengubung antara jalan-jalan ini, keseluruhan ini membentuk suatu
sistem yang rumit ditambah lagi dengan kemacetan yang padat. Kendatipun semua
kerumitan tersebut memiliki titik awal dan akhir yang mengarah ke suatu tujuan.
Demikian pula struktur saraf utama kita yang terdiri dari triliunan sel saraf
(neuron) yang saling berhubungan.
Sistem
saraf adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling
berhubungan satu dengan lainnya. Sistem saraf mengkoordinasi, menafsirkan serta
mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan. Sistem tubuh yang
penting ini juga mengatur aktivitas sistem-sistem lainnya di dalam tubuh,
sehingga terjalinlah komunikasi antar berbagai sistem tubuh sehingga tubuh
dapat berfungsi sebagai unit yang harmonis.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari
uraian latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah
sebagai berikut:
1. Apa
pengertian dari sistem saraf?
2. Apa
saja struktur yang menyusun sistem saraf, fungsi dan klasifikasi sistem saraf?
3. Bagaimanakah
aktivitas sistem saraf dalam memproses informasi?
4. Apa
saja penyakit/ kelainan pada sistem saraf ?
1.3
Tujuan
Adapun
tujuan yang melatarbelakangi penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
memenuhi tugas pada matakuliah Anatomi dan Fisiologi Manusia.
2. Untuk
mengetahui pengertian sistem saraf.
3. Untuk
mengetahui apa saja struktur yang menyusun sistem saraf, pengertian, dan
klasifikasi sistem saraf.
4. Untuk menjelaskan kerumitan kinerja
dari sistem saraf.
5. Untuk
mengetahui berbagai macam penyakit/ kelainan yang dapat menyerang sistem saraf.
1.4
Manfaat
Adapun
manfaat dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1. Sebagai
penambah wawasan bagi para pencari ilmu.
2. Sebagai
bahan referensi bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa biologi pada khususnya
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian
Sistem Saraf
Tubuh
manusia dilengkapi dengan dua perangkat pengatur seluruh kegiatan tubuh. Kedua
perangkat ini sering dikenal dengan sistem koordinasi. Sistem koordinasi ini
terdiri dari sistem saraf, sistem indra
dan sistem hormon. Berbeda dengan sistem hormon yang bekerja lebih lambat,
sistem saraf bekerja dengan cepat dalam menanggapi perubahan lingkungannya,
selain itu pengaturannya dilakukan oleh benang-benang saraf (Pratiwi, 2004:158).
Menurut
Campbell (2004:201) “sistem
saraf merupakan suatu kombinasi-kombinasi sinyal listrik dan kimiawi yang dapat
membuat sel-sel saraf (neuron) mampu berkomunikasi antara satu sama lain” (Campbell, 2004:201).
Jadi, sistem saraf adalah salah satu sistem koordinasi yang berfungsi untuk
menyampaikan rangsangan secara cepat dari reseptor yang akan dideteksi dan
direspon oleh tubuh.
2.2
Struktur
Saraf
Gambar
1. Neuron
Badan
sel saraf merupakan bagian yang paling besar. Didalamnya terdapat nukleus dan
sitoplasma. Di dalam sitoplasma terdapat mitokondria yang berfungsi
membangkitkan energi untuk membawa rangsangan. Dendrit ialah serabut-serabut
saraf yang pendek, biasanya bercabang-cabang seperti pohon dengan bentuk dan
ukuran yang berbeda-beda. Dendrit berfungsi untuk menerima impuls (rangsang)
yang datang dari ujung akson neuron lain. Kemudian impuls dibawa ke badan sel
saraf.
Akson
atau neurit merupakan serabut yang panjang dan umumnya tidak bercabang. Akson
berfungsi meneruskan rangsangan yang berasal dari badan sel saraf ke kelenjar
dan serabut-serabut otot. Jumlah akson
biasanya hanya satu pada setiap neuron.
Di dalamnya terdapat benang-benang halus yang disebut neurofibril. Di bagian ujung yang jauh dari badan sel saraf
terdapat cabang-cabang yang berhubungan dengan dendrit dari sel saraf yang lain. Akson terbungkus oleh beberapa lapis selaput mielin yang banyak mengandung lemak. Selaput mielin disusun oleh Sel Schwann. Lapisan mielin yang paling
luar disebut neurilema. Lapisan tersebut berfungsi untuk melindungi akson dari
kerusakan. Sel Schwann membentuk
jaringan yang membantu menyediakan makanan untuk neurit dan membantu regenerasi
neurit. Selubung mielin bersegmen-segmen. Lekukan diantara dua segmen disebut nodus ranvier. Nodus ranvier berfungsi mempercepat transmisi impuls saraf. Adanya nodus ranvier memungkinkan saraf untuk
meloncat dari satu nodus ke nodus yang lain, sehingga impuls lebih
cepat sampai pada tujuan.
2.3
Jenis-jenis
Neuron
Berdasarkan
fungsi dan arah transmisinya, neuron terbagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai
berikut:
1. Neuron
sensorik, disebut juga sel saraf
indra, karena berfungsi meneruskan rangsang dari penerima (indra) ke saraf
pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Badan sel saraf pusat ini bergerombol
membentuk ganglia, akson pendek, dan dendritnya panjang.
2. Neuron
Motorik (sel
saraf penggerak),
berfungsi membawa impuls dari pusat saraf (otak) dan sumsum tulang belakang ke
otot (efektor). Sel saraf ini mempunyai dendrit yang pendek dan akson yang
panjang.
3. Neuron
Intermediet atau
sel saraf penghubung,
banyak terdapat di dalam
otak dan sumsum tulang belakang, berfungsi menerima rangsangan dari neuron
sensori atau intermediet yang lain. Sel saraf ini memiliki dendrit yang pendek
dan aksonnya ada yang pendek dan panjang.
Gambar
2 jenis-jenis neuron
Sedangkan berdasarkan bentuk neuron
terbagi menjadi 3 jenis, yaitu sebagai berikut:
1. Neuron
Unipolar, hanya mempunyai satu serabut yang dibagi menjadi satu cabang sentral yang berfungsi sebagi salah satu akson dan satu cabang perifer yang berguna
sebagai satu dendrit. Jenis neuron ini merupakan neuron-neuron sensorik saraf
perifer (misalnya sel-sel ganglion cerebrospinalis).
2. Neuron
bipolar, mempunyai dua serabut, satu dendrit dan satu akson. Jenis ini banyak dijumpai pada epitel olfaktori dalam retina mata dan di dalam telinga.
3. Neuron
multipolar, mempunyai banyak dendrit dan satu akson. Jenis neuron ini merupakan yang paling sering dijumpai pada sistem saraf sentral (sel saraf motoris pada
cornu anterior dan lateralis medula spinalis, sel-sel ganglion otonom).
2.4 Fungsi sistem saraf
Gambar
3. input sensoris, integrasi, dan output motoris
Selain ketiga fungsi
diatas berikut ini merupakan fungsi lainnya dari sistem saraf:
1. Menerima
berbagai sensasi dari dari dalam dan luar tubuh.
2. Bereaksi
pada sensasi tersebut, menghadapinya secara otomatis atau merasakan dan
memikirkannya.
3. Menyimpan
memori atau melepaskannya bila dibutuhkan.
4. Mengekspresikan
emosi.
5. Mengirimkan
pesan untuk otot, kelenjar endokrin dan organ lainnya.
6. Mengontrol
tubuh dengan mempertahankan kesehatan, menghindari atau menghadapi bahaya, dan
meningkatkan aktivitas yang menyenangkan.
2.5
Klasifikasi
Saraf
Susunan
sistem saraf manusia tersusun dari sistem saraf pusat (SSP atau Central
Nervous System, CNS) dan sistem saraf tepi (SST atau Peripheral Nervous System, PNS).
Sistem saraf pusat (SPP) meliputi otak dan sumsum tulang belakang.
1. Sistem
Saraf Pusat
a.
Otak
Gambar
4. Otak dilihat dari samping
Otak
merupakan pusat koordinasi dalam tubuh, yang terletak di dalam tulang tengkorak
dan diselubungi oleh jaringan yang disebut selaput
meninges. Selaput meninges dibedakan menjadi tiga, yaitu lapisan keluar yang melekat pada tulang (duramater),
lapisan tengah yang berbentuk saraf laba-laba (arachnoid), dan lapisan dalam yang melekat pada permukaan otak (piamater). Diantara arachnoid dan
piamater terdapat ruang yang cairan yang merupakan pelindung otak jika terjadi
benturan. Otak
merupakan ujung snterior tabung neural yang membesar. Pada manusia besaran itu
begitu besar sehingga persamaannya dengan sumsum tulang belakang tidak jelas.
Pada embrio yang muda terdapat 3
pembesaran yaitu otak depan, otak tengah dan otak belakang. Tetapi otak depan
dan otak belakang kemudian terbagi lagi hingga pada orang dewasa terlihat 5
bagian. Otak depan, terbagi menjadi telensefalon
dan diensefalon. Otak belakang
terbagi menjadi metensefalon yang
bagian dorsalnya membentuk serebelum, dan mielensefalon
yang menjadi medula oblongata.
Gambar 5. Perkembangan Embrionik Otak
1.) Otak depan (Prosensefalon)
Derivat
utama dari otak depan adalah hemisfer serebrum, talamus, hipotalamus, dan
kelenjar pituitari. Hemisfer serebrum
merupakan bagian terbesar dan terdepan dari otak manusia, dan memiliki empat
lobus (frontalis, pariental, oksipital, dan temporal). Hemisfer serebrum berfungsi mengontrol prilaku yang telah
dipelajari, pusat kesadaran, kecerdasan, ingatan, dan interprestasi kesan.
Talamus
ialah bagian yang memproses seluruh rangsangan sebelum
disampaikan kebagian otak. Talamus mengontrol ordinasi manifestasi luar dari
emosi. Misalnya dengan merangsang talamus pada seekor kucing dapat menimbulkan
gejala kemarahan, bulu berdiri, cakar menjulur keluar, punggung membungkuk, dan
lain sebagainya.
Sedangkan hipotalamus
berperan penting dalam mengontrol sejumlah fungsi autonom, seperti
mengendalikan suhu tubuh, selera makan, lapar, haus, keseimbangan metabolisme
karbohidrat dan lemak, tekanan darah, tingkah laku, tidur. Selain itu ia juga
mengontrol fungsi tertentu kelenjar pituitari/ kelenjar hipofisis dengan
menghasilkan faktor pelepas. Kelenjar pituitari merupakan kelenjar endokrin
yang terletak dilekuk kecil pada dasar tengkorak.
2.) Otak Tengah (Mesensefalon)
Otak
tengah manusia cukup kecil dan tidak mencolok, bagian-bagiannya berupa lobus
optik (kolikulus superior) sebagai pusat pengatur gerak bola mata, refleks
pupil dan refleks akomodasi dan bagian kolikulus inferior yang merupakan pusat
dari auditori (pendengaran). Selain itu otak tengah juga mengandung sekelompok
sel saraf yang mengatur tonus otot dan postur tubuh.
3.) Otak belakang (rombensefalon)
Otak
belakang terdiri dari serebelum dan medula oblongata. Serebelum berkembang dari
bagian dorsal metensefalon dan menjadi pusat keseimbangan dan koordinasi/
gerakan. Serebelum menerima informasi dari otot dan telinga, memntau orientasi
tubuh dalam ruang, derajat kontraksi otot rangka, dan memantau kedudukan posisi
tubuh.
Sedangkan medula oblongata terletak dibagian antara
sumsum tulang belakang dengan bagian otak lainnya, fungsinya mengatur denyut
jantung, tekanan darah, gerakan pernafasan, sekresi ludah, menelan, gerak
peristaltik, batuk, ataupun bersin.
b.
Sumsum tulang belakang
Gambar
6. Penampang melintang
sumsum tulang belakang
2.
Sistem Saraf Tepi (SST)
Menurut
asal dan hubunganya, sistem saraf tepi dibedakan menjadi saraf otak dan saraf
sumsum tulang belakang. Saraf otak adalah saraf yang keluar
dari otak menuju alat-alat indra, misalnya mata, telinga, hidung, atau menuju
otot-otot dan kelenjar tertentu. Saraf otak terdiri atas 12 pasang. Saraf
sumsum tulang belakang adalah saraf yang keluar dari sumsum tulang
belakang menuju alat-alat gerak tubuh, seperti lengan dan kaki, serta otot
tubuh lain seperti otot dada dan leher. Saraf ini terdiri atas 31 pasang.
Selain
kedua saraf tersebut, pada sistem saraf tepi juga terdapat saraf tak sadar (saraf
otonom)
yang berfungsi mengatur kegitan organ tubuh yang
bekerja diluar kesadaran. Saraf otonom terdiri atas sistem saraf simpatik dan sistem
saraf parasimpatik. Sistem kerja keduanya saling berlawanan.
2.6
Neuroglia
Neuroglia
(berasal dari kata “nerve glue”) yang pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf
Virchow pada tahun 1854. Neuroglia
tersusun atas berbagai macam sel yang secara keseluruhan menyokong, melindungi,
dan berperan sebagai sumber nutrisi bagi sel saraf (Neuron), baik pada susunan
saraf pusat (SSP) maupun pada susunan
saraf tepi (SST). Sel-sel glia memegang peranan penting dalam menunjang
aktivitas neuron. Sel ini sangat penting bagi integritas struktur sistem saraf
dan bagi fungsi normal neuron.
Neuroglia ialah sel
penyokong bagi neuron-neuron SSP, sedangkan
sel schwann menjalankan fungsi tersebut pada SST. Neuroglia
menyusun 40% volume otak dan medula spinalis. Neuroglia jumlahnya lebih banyak
dari sel-sel neuron dengan perbandingan sekitar
sepuluh banding satu. Berbeda dengan neuron, sel glia
tidak membentuk atau mengeluarkan impuls saraf. Sel ini berkomunikasi dengan
neuron dan diantara mereka sendiri melalui sinyal kimiawi. Sel glia berfungsi
sebagi jaringan ikat SSP dan karenanya membantu menunjang neuron baik secara fisik
maupun metabolik. Sel-sel ini
secara homeostatis
mempertahankan komposisi lingkungan ekstra sel khusus yang mengelilingi neuron
di dalam batas-batas sempit yang optimal bagi fungsi neuron (Muttaqin, 2008:7).
Menurut Muttaqin (2008: 7-8)
ada 2 jenis neuroglia,
yaitu Nueroglia SPP dan Neuroglia SST. Berikut ini
penjelasan tentang neuroglia:
1. Nueroglia
SPP
Ada 4 macam neuroglia SPP yang berhasil diidentifikasi
yaitu: Astrosit, Oligodendrosi, Mikroglia, dan sel ependim.
a. Astrosit,
Astroglia atau astrosit (astro-bintang) merupakan sel
glia terbesar dan terbanyak yang berbentuk seperti
bintang (astro-bintang). Sel
ini memiliki fungsi penting diantaranya:
·
Sebagai barier
darah otak. Kandungan dalam sirkulasi tidak bisa masuk ke dalam cairan
interstisial dari SSP. Jaringan neural harus terisolasi dari sirkulasi umum
karena hormon dan beberapa zat kimia dalam darah akan menghambat fungsi dari
neuron.
·
Sebagi perekat utama SSP, astrosit menyatukan
neuron-neuron dalam hubungan ruang yang benar.
·
Sebagai perancah untuk
menuntun neuron ke tujuan akhir selama perkembangan otak masa janin.
·
Penting dalam perbaikan
cedera otak dan dalam pembentukan jaringan parut saraf. Didalam SSP kerusakan dari jaringan neuron akan
merusak fisiologi dari neuron. Astrosit akan memperbaiki atau mencegah
kerusakan lebih lanjut dari neuron.
·
Meningkatkan
pembentukan sinaps dan memodifikasi transmisi sinaps.
b. Oligodendroglia
Oligodendroglia/ oligodendrosit berbentuk
lebih kecil daripada astrosit dengan cabang sitoplasmanya lebih pendek dan
jumlah cabang sedikit. Intinya kecil, dan sitoplasma disekitar inti sedikit.
Mengandung ribosom, kompleks golgi, mikrotubulus dan nuerofilamen. Oligodendroglia bertanggung jawab dalam pembentukan
mielin dalam SSP. Setiap oligodendroglia mengelilingi beberapa neuron dan
membran plasmanya membungkus tonjolan neuron sehingga membentuk selubung
mielin. Sedangkan mielin pada SST di bentuk oleh sel-sel schwann.
c. Mikroglia
Merupakan sel pertahanan
imun SSP. Sel ini sejenis dengan sel darah putih yang meninggalkan darah dan
membentuk lini pertama pertahanan di berbagai jaringan di seluruh tubuh.
Mikroglia berasal dari jaringan sumsum tulang yang sama dengan yang
menghasilkan monosit.
d. Sel
Ependim, berfungsi melapisi
bagian dalam rongga otak dan medula spinalis, ikut membentuk cairan
serebrospinal, berfungsi sebagai sel punca neuron dengan potensi membentuk
neuron dan glia baru.
2. Neuroglia
Sistem Saraf Perifer
Sel
Schawann adalah sejenis sel glia yang disebut menurut nama seorang ilmuan
jerman, Theodor Schwann. Pada akson sistem saraf tepi, sel schawann
memungkinkan terjadinya transduksi sinyal elektrik dari dendrit menuju terminal
akson, dengan melilitkan membran plasmanya secara konsentrik sepanjang akson
yang dikenal sebagi selubung mielin.
Pada
sistem saraf pusat, selubung mielin terbentuk oleh oligodendosit. Sel schawann
sebagi neuron unipolar, sebagaimana oligodendosit membentuk mielin dan
neurolemma pada SST. Neurolema adalah
membran sitoplasma halus yang dibentuk oleh sel-sel schawann yang membungkus
serabut neuron dalam SST, baik yang bermielin maupun tidak.
2.7
Gerak
Biasa dan Gerak Refleks
a.
Gerak biasa
Gambar
7. gerak biasa
Gerak
biasa merupakan gerak yang terjadi karena adanya perintah dari otak. Berikut
ikhtisar gerak biasa:
b. Gerak
refleks
Gerak
reflek terjadi dengan cepat sebagai reaksi otomatis terhadap rangsangan
lingkungan. Berikut ikhtisar gerak refleks:
Pada umumnya, gerak refleks
merupakan upaya tubuh untuk menghindari bahaya. Suatu saat tatkala impuls telah
mencapai sumsum tulang belakang, neuron
asosiasi mengirim impuls lain ke otak. Ketika impuls tersebut samapi ke
otak, kamu baru menyadari bahwa kamu
telah mengangkat kaki karena merasa sakit.
Gambar 8. Alur refleks
Menurut pusat terjadinya
refleks, gerak refleks dibedakan menjadi 2, yaitu refleks otak dan refleks
sumsum tulang belakang. Refleks otak misalnya refleks mata. Refleks tulang
belakang, misalnya refleks lutut.
2.8
Aktivitas
Sinaptik
Sinapsis
merupakan persambungan unik yang mengontrol komunikasi antara satu neuron
dengan sel-sel yang lain. Sinapsis ditemukan diantara dua neuron, antara
reseptor sensoris dan neuron sensoris, antara neuron motoris dan sel otot yang
dikontrolnya, dan antara neuron dengan sel kelenjar. Sinapsis antar neuron menghantarkan sinyal
dari terminal sinaptik akson ke dendrit (badan sel) berikutnya dalam suatu
jalur neuron. Sel yang menghantarkan sinyal tersebut ialah sel prasinaptik (presynaptic cell), dan sel yang menerima
disebut dengan sel pascasinaptik (Postsynaptic
cell). Sinapsis terdiri atas 2
jenis, yaitu sinapsis listrik dan sinapsis kimia (Campbell, 2004:210).
1.
Sinaps Listrik
Sinaps
listrik memungkinkan potensial aksi merambat secara langsung dari satu sel
prasinaptik ke sel pascasinaptik. Sel-sel itu dihubungkan oleh persambungan
longgar, yaitu saluran antar sel yang mengalirkan ion potensial aksi lokal agar
mengalir antar neuron. Sinaps listrik pada sistem saraf vertebrata
menyelaraskan aktivitas neuron yang bertanggung jawab atas sejumlah pergerakan
cepat dan khas. Contoh, sinaps listrik pada otak yang membuat beberapa jenis
katak mampu mengibaskan ekornya dengan sangat cepat ketika melarikan diri dari
pemangsa.
2.
Sinaps Kimia
Pada
sinaps kimia, sebuah celah sempit, atau celah sinaptik memisahkan sel
prasinaptik dari sel pascasinaptik. Adanya celah tersebut menyebabkan sel-sel
tidak dapat dikopel secara elektrik, dan potensial aksi yang terjadi pada sel
prasinaptik tidak dapat dirambatkan secara langsung ke membran sel
pascasinaptik.
Gambar.
9. Aktivitas sinaps
2.9
Penyakit/
Kelainan pada Sistem Saraf
1. Penyakit epilepsi, merupakan suatu kondisi otak yang menjadikan penderita sensitif terhadap kejang-kejang yang berulang.
2. Meningitis, adalah peradangan pada selaput pembungkus otak dan sumsum tulang belakang akibat infeksi bakteri.
3. Polio, merupakan penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami kelumpuhan karena kehilangan refleks dan mengecilnya otot. Penyebabnya adalah infeksi virus polio pada sumsum tulang belakang.
4. Penyakit Alzhaimer (Demensia persinelis), adalah kondisi yang ditandai dengan berkurangnya kemampuan untuk mengingat.
5. Neuritis, adalah iritasi pada neuron yang disebabkan oleh infeksi kekurangan vitamin atau keracunan yang disebabkan CO, logam berat, ataupun obat-obatan.
1. Penyakit epilepsi, merupakan suatu kondisi otak yang menjadikan penderita sensitif terhadap kejang-kejang yang berulang.
2. Meningitis, adalah peradangan pada selaput pembungkus otak dan sumsum tulang belakang akibat infeksi bakteri.
3. Polio, merupakan penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami kelumpuhan karena kehilangan refleks dan mengecilnya otot. Penyebabnya adalah infeksi virus polio pada sumsum tulang belakang.
4. Penyakit Alzhaimer (Demensia persinelis), adalah kondisi yang ditandai dengan berkurangnya kemampuan untuk mengingat.
5. Neuritis, adalah iritasi pada neuron yang disebabkan oleh infeksi kekurangan vitamin atau keracunan yang disebabkan CO, logam berat, ataupun obat-obatan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Sistem
saraf adalah suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling
berhubungan satu dengan lainnya. Sistem saraf mengkoordinasi, menafsirkan serta
mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan. Sistem tubuh yang
penting ini juga mengatur aktivitas sistem-sistem lainnya di dalam tubuh,
sehingga terjalinlah komunikasi antar berbagai sistem tubuh sehingga tubuh
dapat berfungsi sebagai unit yang harmonis.
Sistem
saraf terdiri dari jutaan sel saraf yang sering disebut dengan neuron. Neuron
dikhususkan untuk menghantarkan dan mengirimkan pesan (impuls) yang berupa
rangsangan atau tanggapan. Setiap satu sel saraf (neuron) terdiri atas bagian
utama berupa badan sel saraf, dendrit, dan akson.
3.2
Saran
1. Agar
dapat menjadi bahan bacaan yang bermanfaat bagi mahasiswa Biologi secara
khususnya, dan bagi pembaca lainnya.
2. Dengan
adanya beberapa keterbatasan dalam penyusunan makalah ini, diharapkan kepada
pembaca untuk menyampaikan kritik dan saran yang membangun.
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell, dkk. 2004. Biologi. Ed. 5 Jil. 3. Jakarta: Erlangga.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta: Salemba Medika
Pratiwi, D.A. 2004. Buku Penuntun Biologi. Jakarta: Erlangga.










No comments:
Post a Comment