Biologi Terapan

BUDIDAYA BUAH NAGA SUPER RED  DI DESA UJONG BLANG MESJID KECAMATAN KUALA KABUPATEN BIREUEN

 BAB I
PENDAHULUAN
           1.1       Latar Belakang
Buah naga atau dragon fruit sejatinya merupakan tanaman kaktus. Tanaman ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan bagian utara (Columbia). Di daerah asalnya buah naga terkenal dengan sebutan pitahaya atau pitaya roja. Awalnya tanaman ini dipergunakan sebagai tanaman hias karena sosoknya yang unik, eksotik, serta tampilan bunga dan buahnya yang cantik. Namun sejak penduduk asli mengetahui bahwa buah naga bisa dimakan dan rasanya enak, merekapun mulai mengkomsumsi buah naga sebagai buah-buahan segar di meja hidangan. Sejak itu buah naga mulai populer. Selain itu buah naga memiliki berbagai macam kandungan gizi yang berkhasiat, sehingga tanaman ini mulai dibudidayakan di kebun-kebun untuk di ambil buahnya (Hardjadinata, 2010).
Dragon fruit atau huo lung kuo (bahasa mandarin), mulai diperkenalkan di Indonesia pada dekade 90-an. Tanaman ini merupakan pendatang baru di dunia pertanian Indonesia. Buah naga mulai di kenal luas di Indonesia pada awal tahun 2000 karena ekspor dari Thailand. Namun teknik pembudidayaannya masih sangat minim dikarenakan pengetahun petani mengenai budidaya buah naga masih sangat kurang sedangkan permintaan akan buah naga semakin tinggi.
Di Banda Aceh, permintaan buah naga mulai terasa sejak tahun 2007. Meskipun masih didominasi oleh warga keturunan Cina, namun setelah diketahui khasiatnya, buah ini mulai disukai oleh kalangan pribumi, meskipun kebanyakan dari kalangan tertentu.
Sungguh sangat disayangkan, meskipun permintaan buah naga di Aceh terus meningkat namun buah naga tersebut kebanyakan di datangkan dari luar. Hal ini disebabkan belum banyaknya para petani yang mengetahui teknik budidaya tanaman buah naga ini. Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti bagaimana teknik-teknik budidaya tanaman buah naga.
            1.2       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
            1.   Bagaimanakah teknik pembudidayaan tanaman buah naga super red di Desa             Ujong Blang Mesjid Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen?
            1.3       Tujuan Penelitian
         Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
            1.   Mengetahui dan memahami secara langsung teknik pembudidayaan buah          naga super red di Desa Ujong Blang Mesjid Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen.
            1.4       Manfaat Penelitian
            1.   Memperoleh pengalaman kerja secara langsung dan meningkatkan                    ketrampilan dalam bidang pembudidayaan buah naga super red sehingga              dapat menjadi bekal bagi peneliti.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Botani Tanaman Buah Naga
2.1.1 Sistematika
          Tanaman naga merupkan tanaman yang memiliki ciri khas daun berduri. Buah naga memiliki berbagai macam nama di berbagai daerah, sehingga sering terjadi perbedaan. Untuk itu perlu tata nama internasional. Menurut Hardjadinata (2010), tanaman naga di klasifikasikan sebagai berikut:
Divisio                  : Spermatophyta
Sub Division         : Angiospermae
Classis                  : Dicotyledonae
Ordo                     : Cactales
Familia                 : Cactaceae
Genus                   : Hylocereus
Spesies                 : Hylocereus costaricensis, Hylocereus undatus
  Hylocereus polyrhizus, Selenicereus megalanthus
2.1.2 Morfologi
Tanaman ini merupakan jenis tanaman memanjat. Saat di temukan di alam aslinya, tanaman ini memanjat pada batang tanaman lain di hutan yang teduh. Walaupun perakarannya ditanah dicabut, tanaman ini tetap hidup sebagai tanaman epifit karena kebutuhan makanannya juga dapat diperoleh dari udara pada batangnya.
Secara morfologis, tanaman ini termasuk tanaman tidak lengkap karena tidak memiliki daun. Berikut ini merupakan morfologi dari tanaman buah naga:

         a.    Akar
Perakaran tanaman buah naga bersifat epifit, yaitu merambat dan menempel pada batang tanaman lain. Namun dalam pembudidayaan, media untuk merambatkan batang tanaman buah naga ini dapat digantikan dengan tiang penopang atau kawat. Perakaran tanaman buah naga sangat tahan dengan kekeringan dan tidak tahan genangan yang cukup lama. Kalaupun tanaman ini dicabut dari tanah, ia masih hidup terus sebagai tanaman epifit karena menyerap air dari akar udara yang ada pada batangnya.


Gambar 1. Akar epifit pada tanaman buah naga
Perakaran tanaman buah naga tidak terlalu panjang dan terbentuk akar cabang. Dari akar cabang tumbuh akar rambut yang sangat kecil, lembut, dan banyak (Kristanto, 2009)

        b.   Batang dan Cabang
Batang tanaman naga mengandung air dalam bentuk lendir dan berlapiskan lilin bila sudah dewasa. Warnanya hijau hijau kebiru-biruan atau ungu. Batang tersebut berukuran panjang  dan bentuknya siku atau segi tiga. Dengan bentujnya tersebut makan tanaman ini dikatakan aneh (unik) sehingga tidak jarang dijadikan tanaman hias. Dari batang ini tumbuh banyak cabang yang bentuk dan warnanya sama dengan batang. Batang dan cabang ini berfungsi sebagai daun dalam proses asimilasi. Itulah sebabnya batang dan cabangnya berwarna hijau. Batang dan cabagng mengandung kambium yang berfungsi untuk pertumbuhan tanaman (Kristanto, 2009).
 
Gambar 2. Batang dan cabang
Gambar 3. Duri tanaman naga
Dari batang dan cabang tumbuh duri-duri yang keras, tetapi sangat pendek sehingga tidak mencolok. Biasanya jumlah duri pada disetiap titik tumbuh pada batang sekitar 4-5 buah. Letak duri tersebut pada tepi siku-siku batang maupun cabang (Kristanto, 2009).
   
       c.    Bunga
       Bunga tanaman buah naga berbentuk seperti terompet, mahkota bunga bagian luar berwarna krem dan mahkota bunga bagian dalam berwarna putih. Bunga memiliki sejumlah benang sari (sel kelamin jantan) yang berwarna kuning. Bunga buah naga tergolong dalam bunga hermaprodit, yaitu dalam satu bunga terdapat benang sari dan putik. Bunga muncul atau tumbuh di sepanjang batang dibagian punggung sirip yang berduri. Sehingga dengan demikian, pada satu ruas batang tumbuh bunga yang berjumlah banyak dan tangkai bunga yang sangat pendek (Cahyono, 2009).
 

      Gambar 4. Bunga tanaman naga
        d.   Buah
        Buah berbentuk bulat panjang serta berdaging berwarna merah (untuk jenis super red) dan sangat tebal. Letak buah pada umumnya mendekati ujung cabang atau batang. Pada cabang atau batang dapat tumbuh buah lebih dari satu, terkadang bersamaan atau berhimpitan. Bentuk buah bulat lonjong. Ketebalan kulit buah 2-3 cm. Pada permukaan kulit buah terdapat jumbai atau jambul berukuran 1-2 cm (Kristanto, 2009).


Gambar 5. Buah naga
       e.    Biji
       Biji berbentuk bulat berukuran kecil dengan warna hitam. Kulit biji sangat tipis, tetapi keras. Biji ini dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman secara generatif.

Biji merupakan organ perkembangiakan, tetapi jarang digunakan. Umumnya biji hanya digunakan dikalangan peneliti dalam upaya mencari varietas baru karena dibutuhkan waktu relatif lama untuk mendapatkan tanaman berproduktif. Setiap buah terdapat 1.200 sampai 2.300 biji (Kristanto, 2009).
2.2 Jenis Tanaman Buah Naga
          Menurut Warisno, buah naga tidak hanya merujuk pada satu jenis tanaman saja, melainkan pada beberapa spesies terutama genus Hylocereus. Beberapa spesies yang disebut sebagai buah naga yaitu:
      1.   Hylocereus undatus
Buah naga jenis ini banyak di tanam di Indonesia dan sering disebut dengan buah naga putih. Tanaman buah naga ini memiliki kulit buah berwarna merah dengan bagian tangkai berwarna hijau atau merah. Ukuran buah besar dengan panjang 15-22 cm dengan bobot buah 300-800 gram. Daging buah berwarna putih, beraroma harum, dan rasanya enak.
 

      Gambar 8. Hylocereus undatus
      2.   Hylocereus costaricensis
Tanaman buah naga jenis ini memiliki kulit merah serta deging buah yang juga berwarna merah, bertekstur lembut, dan manis. Buah naga jenis ini memiliki bobot 150-400 gram/buah.


Gambar 9. Hylocereus costaricensis
      3.   Selenicereus megalanthus
Berbeda dengan jenis Hylocereus undatus dan Hylocereus costaricensis, warna kulit buah Selenicereus megalanthus adalah kuning kehijauan. Sedangkan dagingnya berwrna putih seperti pada jenis Hylocereus undatus. Bobot buahnya lebih kecil yaitu 80-100 gram/buah.


Gambar 10. Selenicereus megalanthus
2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Naga
2.3.1 Iklim
Tanaman buah naga merupakan tanaman tropis dan sangat mudah beradaptasi terhadap lingkungan tumbuh dan perubahan cuaca seperti sinar matahari, angin, dan curah hujan. Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman ini adalah sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini akan lebih baik bila hidup di dataran rendah antara 0-350 m dpl. Suhu udara yang ideal bagi tanaman buah naga ini antara 26°-36° C dan kelembapan antara 70-90 % (Rukmana, 2003).
Tanaman buah naga merah dan putih dapat tumbuh dengan baik dan lebat serta rasanya manis memerlukan penyinaran matahari langsung setiap hari (minimal 8 jam sehari). Berkurangnya intensitas penyinaran yang diterima akibat ternaungi gedung/ bangunan atau tanaman lain maka pertumbuhan tanaman dan produksinya tidak maksimal (Cahyono, 2009).
Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman ini adalah sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Pada curah hujan 600-1.300 mm/tahun pun tanaman ini masih dapat tumbuh. Namun, tanaman ini tidak tahan dengan genangan air. Hujan yang terlalu deras dan berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan yang ditandai dengan proses pembusukan akar yang terlalu cepat dan akhirnya merambat sampai ke pangkal batang. Sementara intensitas sinar matahari yang disukai antara 70% - 80% (Kristanto, 2009).
2.3.2 Ketinggian Tempat dan Tanah
Menurut Cahyono (2009), ketinggian tempat untuk pembudidayaan buah naga merah dan putih yaitu dataran rendah sampai medium yang berkisar 0 m – 500 m dpl, yang ideal adalah kurang dari 400 m dpl. Di daerah pada ketinggian 500 m dpl, buah naga merah dan putih masih dapat tumbuh dengan baik dan berbuah, namun buahnya tidak lebat dan  rasa buahnya kurang manis. Untuk buah naga kuning, ketinggian tempat yang cocok untuk pertumbuhan dan berproduksi adalah di atas 800 m dpl (dataran tinggi atau pegunungan).

Struktur tanah yang gembur juga meninggkatkan drainase tanah sehingga dapat mencegah genangan air. Jika drainase tanah baik, maka seluruh kehidupan yang berada di bawah tanah berjalan dengan baik dan tanaman dapat tumbuh dengan subur dan berproduksi (Cahyono, 2009).
2.3 Manfaat Buah Naga
          Selain dapat di jadikan hiasan, tanaman buah naga ini kaya akan manfaat, berikut kandungan gizi yang terdapat pada buah naga:

Tabel 2.1 Kandung gizi pada buah naga
No.
Kandungan
Per 100 gram daging buah
Hylocereus undatus
Hylocereus costaricensis
Selenicereus megalanthus
1.
Air (g)
89.4
82.5 – 83.0
85.4
2.
Protein (g)
0.5
0.16 – 0.23
0.4
3.
Lemak (g)
0.1
0.21 – 0.61
0.1
4.
Serat kasar (g)
0.3
0.70 – 0.90
0.5
5.
Abu (g)
0.5
0.28
0.4
6.
Kalsium (mg)
6.0
6.30 – 8.80
10.0
7.
Fosfor (mg)
19.0
30.2 – 36.1
16.0
8.
Besi (mg)
0.4
0.55 – 0.65
0.3
9.
Karoten (mg)
-
Sangat sedikit
-
10.
Thiamin (mg)
-
Sangat sedikit
-
11.
Riboflavin (mg)
-
Sangat sedikit
-
12.
Niasin (mg)
0.2
1.29 – 1.30
0.2
13.
Vitamin C (mg)
25.0
8.00 – 9.00
4.0
14.
Tingkat Kemanisan (brix)
11 – 19
Tidak diketahui
Tidak diketahui
15.
Nilai pH
4.7 – 5.1
Tidak diketahui
Tidak diketahui
Sumber: diolah dari berbagai sumber

          Beberapa kandungan gizi buah naga yang penting bagi kesehatan adalah vitamin C. Serat dari buah naga dibutuhkan untuk menurunkan kolesterol. Di dalam saluran pencernaan, serat akan berfungsi mengikat asam empedu untuk kemudian dikeluarkan bersama dengan tinja. Oleh karenanya, semakin tinggi konsumsi serat maka semakin asam empedu dan lemak yang dikeluarkan oleh tubuh. Selain itu, buah naga ini dapat mengobati sembelit, hipertensi, dan memperhalus kulit wajah.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
          Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah  pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan yang berbentuk deskriptif dengan cara wawancara dan mendata langsung di lokasi penelitian. Jenis penelitin yang digunakan adalah penelitian survei dengan metode jelajah dan mengamati langsung ke lokasi penelitian.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ujong Blang Kecamatan Kuala Raja Kabupaten Bireuen. Penelitian ini berlangsung pada hari Minggu, tanggal 14 Desember 2014.
3.3 Alat dan Bahan Penelitian
          Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku catatan, kamera digital, peralatan alat tulis lainnya, dan Buku panduan Pintar Bertanam Buah Naga di Kebun, di pekarangan, dan dalam Pot karangan Warisno.
3.4 Prosedur Penelitian
a.    Penentuan Lokasi Kegiatan
Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja dengan alasan di Desa Ujong Blang merupakan salah satu sentra pembudidayaan buah naga super red, sehingga penulis dapat memperoleh pengetahuan, informasi-informasi serta pengalaman mengenai teknik budidaya buah naga super red ini.

b.   Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam pelaksanaan mini research ini adalah:
1.   Wawancara, merupakan proses untuk memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab langsung antara pewawancara dengan koresponden.
2. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti.
3.   Studi Pustaka, merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan memanfaatkan data yang tersedia yang berhubungan dengan kegiatan peneliti. Data tersebut dapat berupa buku, jurnal, atau referensi lainnya yang bersifat informative dan berhubungan dengan penelitian.
c.    Jenis dan Sumber Data
1.   Data Primer, data yang diperoleh peneliti langsung dari responden dengan cara wawancara.
2.   Data Sekunder, data yang dipeoleh peneliti dari buku, jurnal atau bahan referensi lainnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Petani
Bapak Syabuddin merupakan warga asli Bireuen, beliau tinggal di kota Bireuen dan lahan perkebunannya ada di desa Ujong Blang Mesjid. Beliau telah membudidayakan tanaman buah naga super red sejak 2013 yang lalu. Awal ketertarikan bapak ini untuk membudidayakan buah naga melalui petani-petani yang terlebih dahulu menanamnya. Karena harga jual buah yang tinggi, masih langka di wilayah Bireuen, serta daya tarik akan keeksotikan dan kelezatan buah yang kaya gizi ini semakin memperkuat untuk membudidayakan tanaman unik ini.
Dengan luas lahan sekitar 3.000 m, Bapak Syabuddin mulai menanam 40 stek naga super red, yang ditanam menjadi 10 tiang. Hasil panen pertama di konsumsi secara pribadi bersama keluarga, selanjutnya jika ada yang memesan baru dijual dengan harga Rp. 50.000/kg. Tahun selanjutnya, penambahan produksi sebanyak 560 stek yang berarti dari 40 stek menjadi 600 stek atau 150 tiang. Sejauh ini beliau masih membudidayakan tanaman buah naga sendirian (tanpa pekerja).



4.2 Budidaya Tanaman Buah Naga Super Red
4.2.1 Persiapan Lahan
Luas lahan yang dimiliki oleh Bapak Syabuddin adalah 3.000 m. Sehingga pertama sekali lahan perlu dibersihkan dari semak dan pohon yang menghalangi sinar matahari, juga dari hama yang potensial terhadap buah naga seperti bekicot dan ulat daun. Kemudian plotting  untuk menyusun barisan tanaman dengan ketentuan jarak tanam 2 ½ x 3 m dan dibuat lubang tanam yang diisi dengan pasir agar memudahkan dalam menegakkan tiang.
 
Gambar 11. Lahan tanaman naga
4.2.2 Pembibitan
          Perbanyakan tanaman merupakan hal yang paling pokok dalam pembudidayaan, baik itu sayur-sayuran atau buah-buahan. Pembibitan buah naga dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu, secara vegetatif dan generatif. Cara vegetatif ialah dengan menggunakan biji. Meskipun hasil tanaman dengan biji lebih menjamin bibit yang seragam serta perakarannya, namun sistem ini jarang dipakai kerena relatif lama. Petani tanaman naga di luar daerah biasanya menggunakan cara vegetatif, yakni dengan stek batang, demikian pula dengan Bapak Syabuddin.
 
Gambar 12. Bibit yang distek 
4.2.3 Persiapan Tiang Rambatan
Tiang rambatan tanaman naga dapat berupa kayu, atau batang tanaman namun karena penggunaan batang pohon atau kayu tidak tahan lama maka petani berinisiatif membuat tiang rambatan dari beton. Jumlah tiang rambatan yang disediakan adalah 150 tiang. Panjang tiang 1½ m, dengan acuan 10 cm ditanam ke dalam tanah. Sedangkan bagian lingkaran ujung beton dipasang ban bekas, dengan 2 batang besi sebagai penyangganya yang dipasang pada beton dengan menyilang.

Gambar 13. Tiang rambatan untuk tanaman buah naga
4.2.4 Pelaksanaan Penanaman
          Pada lubang tanam beton yang tersisa diisi dengan pasir sebanyak 10 kg – 20 kg dan tanah secukupnya. Kemudian ditanam bibit naga dari hasil stek sebanyak 4 batang di sekeliling tiang dengan jarak tanam 5 – 10 cm dari tiang.
4.2.5 Perawatan Tanaman
      1. Pengikatan Batang/Cabang
        Pengikatan tanaman pada tiang beton dilakukan pertama kali langsung pada saat tanam. Kemudian setiap kali tumbuh ruas baru atau bila batang bertambah 40 – 50 cm agar tidak menjuntai dan patah. Hal ini biasanya terjadi 3 – 4 minggu.
      2. Pengairan (Penyiraman)
        Penyiraman buah naga dilakukan secara bervariasi tergantung musim yang sedang berjalan. Pada musim kemarau biasanya Bapak Syabuddin melakukan penyiraman seminggu sekali, sedangkan pada musim penghujan seperti sekarang ini, beliau melakukan penyiraman 2 minggu sekali. Untuk hasil yang lebih efektif, beliau menyarankan penyiraman dilakukan sehari sekali dengan dosis disesuaikan.
        Untuk memudahkan penyiraman, biasanya petani buah naga menggenai air pada parit yang berada pada bendengan buah naga. Namun Bapak Syabuddin masih dapat menjangkau penyiraman setiap 2 minggu sekali dengan menggunakan sistem pengairan pipa.
      3. Pemupukan
Pemupukan dilakukan sebanyak 4 kali setahun, dan di ulangi setiap 3 bulan sekali. Jenis pupuk yang dipakai beragam, namun yang biasa dipakai oleh Bapak syabuddin antara lain pupuk cair kuda laut, 2A, dan Petrogersi. Untuk pupuk cair kuda laut, pemupukannya dilakukan sebanyak 3 kali dalam sebulan.
      4. Pemangkasan
      Perawatan tanaman buah naga yang selanjutnya adalah pemangkasan. Pemangkasan merupakan serangkaian kegiatan membuang cabang/batang guna memperoleh keseimbang dalam produktivitas tanaman. Bapak Syabuddin biasanya melakukan pemangkasan pada pergantian musim kemarau ke musim penghujan, yakni September – November. Pada bulan tersebut tanaman dikatakan mengalami masa stress karena pada bulan – bulan tersebut tanaman tidak berbunga dan tidak berbuah. Pemangkasan dilakukan pada pilar buah yang sudah tua dan biasanya, hasil dari pemangkasan dijadikan bibit baru untuk tanaman buah naga.
      5. Penyiangan
                   Perawatan yang terakhir adalah penyiangan. Penyiangan ini dilakukan petani tidak pasti waktunya. Karena tanaman atau rumput yang ada di lahan tidak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penyiangan dilakukan ketika rumput atau tanaman kecil yang tumbuh di sekitar tanaman utama sudah terlihat lebat. Hasil penyiangan ini biasanya dijadikan sebagai pupuk.
      4.2.6  Mengenal Pembungaan, Pembuahan, dan Panen Buah
Berbeda dengan buah naga putih, buah naga super red yang di budidayakan oleh Bapak Syabuddin dapat di panen lebih cepat, yaitu 3 atau 4 bulan sekali. Bunga mulai muncul pada batang setelah batang/cabang menjulur ke bawah. Di awali dengan tumbuh bunga, 2-3 minggu kemudian mulai mekar. Sepuluh hari mulai nampak bakal buah. Buah naga sudah mulai bisa di petik dengan tanda buah telah berwarna merah, dan dapat di panen setelah warna merahnya penuh.
4.2.7 Hama dan Penyakit
          Setiap tanaman budidaya pasti memiliki berbagai macam kendala-kendala, diantaranya adalah hama dan penyakit. Hama yang sering menjadi kendala bagi tanaman budidaya Bapak Syabuddin ini adalah keong, tungau, dan penyakit batang busuk. Untuk penanganannya hama biasanya dipakai pestisida jenis quarter dengan cara membubuhkan setiapk tiang sebanyak 1 sendok.
          Selain gangguan hama dan penyakit, pencurian terhadap buah naga juga menjadi salah satu kendala yang cukup mengganggu. Menurut Bapak Syabuddin, pencurian buah naga itu terjadi karena nilai jual buah eksotik tersebut yang lumayan tinggi. Satu kilo buah naga mencapai Rp. 50.000 – Rp. 80.000 dengan jumlah 2 buah/kilo.





Gambar 14. Hama dan penyakit


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
          Budidaya tanaman buah naga di Desa Ujong Blang Mesjid Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen oleh Bapak Syabuddin terdiri atas persiapan lahan, pembibitan, pemasangan tiang rambatan, pelaksanaan penanaman, perawatan tanaman yang dimulai dari pengikatan batang/cabang, pengairan, pemupukan, pemangkasan, penyiangan, pengenalan terrhadap pembungan, pembuahan, dan kapan waktu panen, serta penanggulang hama.
5.2 Saran
1.   Semoga laporan penelitian mini research ini dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman kerja praktis bagi mahasiswa guna membentuk kesiapan menghadapi dunia kerja khususnya pada kegiatan kewirausahaan serta penciptaan lapangan kerja.
2.   Untuk memperluas pengetahuan serta wawasan dalam menerapkan ilmu yang dipelajarin serta kaitannya dengan bidang ilmu lainnya
3.   Laporan Penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran yang membangun sangat penulis perlu dan harapkan.

DAFTAR PUSTAKA
          Cahyono, B. Buku Terlengkap Sukses Bertanam Buah Naga. Jakarta: Pustaka Mina.
Kristanto, Daniel. 2009. Buah Naga Pembudidayaan di Pot dan di kebun. Edisi revisi. Bogor: Penebar Swadaya.
Rukmana. 2003. Kaktus. Cet 5. Kanisius: Yogyakarta.

          Warisno, & Kres Dahana. Buku Pintar Bertanam Buah Naga di Kebun, di pekarangan, dan dalam Pot. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

No comments:

Entri yang Diunggulkan

Trio Pluviophile

Mungkin hujan mampu mengkamuflasekan air matamu, tapi hujan tidak akan pernah mengkamuflasekan tawa diwajahmu._Una JF. Mendung men...