BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Buah naga
atau dragon fruit sejatinya merupakan
tanaman kaktus. Tanaman ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika
Selatan bagian utara (Columbia). Di daerah asalnya buah naga terkenal dengan
sebutan pitahaya atau pitaya roja. Awalnya tanaman ini dipergunakan sebagai tanaman
hias karena sosoknya yang unik, eksotik, serta tampilan bunga dan buahnya yang
cantik. Namun sejak penduduk asli mengetahui bahwa buah naga bisa dimakan dan
rasanya enak, merekapun mulai mengkomsumsi buah naga sebagai buah-buahan segar
di meja hidangan. Sejak itu buah naga mulai populer. Selain itu buah naga
memiliki berbagai macam kandungan gizi yang berkhasiat, sehingga tanaman ini
mulai dibudidayakan di kebun-kebun untuk di ambil buahnya (Hardjadinata, 2010).
Dragon fruit atau huo lung kuo (bahasa mandarin), mulai diperkenalkan di Indonesia
pada dekade 90-an. Tanaman ini merupakan pendatang baru di dunia pertanian
Indonesia. Buah naga mulai di kenal luas di Indonesia pada awal tahun 2000 karena
ekspor dari Thailand. Namun teknik pembudidayaannya masih sangat minim
dikarenakan pengetahun petani mengenai budidaya buah naga masih sangat kurang
sedangkan permintaan akan buah naga semakin tinggi.
Di Banda
Aceh, permintaan buah naga mulai terasa sejak tahun 2007. Meskipun masih
didominasi oleh warga keturunan Cina, namun setelah diketahui khasiatnya, buah
ini mulai disukai oleh kalangan pribumi, meskipun kebanyakan dari kalangan
tertentu.
Sungguh
sangat
disayangkan, meskipun permintaan buah naga di Aceh terus meningkat namun buah
naga tersebut kebanyakan di datangkan dari luar. Hal ini disebabkan belum
banyaknya para petani yang mengetahui teknik budidaya tanaman buah naga ini.
Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti bagaimana teknik-teknik budidaya
tanaman buah naga.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
1. Bagaimanakah teknik
pembudidayaan tanaman buah naga super
red di
Desa Ujong Blang Mesjid
Kecamatan Kuala Kabupaten
Bireuen?
1.3
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui dan memahami
secara langsung teknik pembudidayaan buah naga super red di
Desa Ujong Blang Mesjid Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen.
1.4
Manfaat Penelitian
1. Memperoleh pengalaman
kerja secara langsung dan meningkatkan ketrampilan dalam bidang pembudidayaan
buah naga super red sehingga dapat menjadi bekal bagi peneliti.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Botani Tanaman Buah Naga
2.1.1 Sistematika
Tanaman naga merupkan tanaman
yang memiliki ciri khas daun berduri. Buah naga memiliki berbagai macam nama di berbagai
daerah, sehingga sering terjadi perbedaan. Untuk itu perlu tata nama
internasional. Menurut
Hardjadinata
(2010),
tanaman
naga di klasifikasikan
sebagai berikut:
Divisio : Spermatophyta
Sub Division : Angiospermae
Classis : Dicotyledonae
Ordo : Cactales
Familia : Cactaceae
Genus : Hylocereus
Spesies : Hylocereus
costaricensis, Hylocereus undatus
Hylocereus polyrhizus, Selenicereus megalanthus
2.1.2 Morfologi
Tanaman ini merupakan jenis tanaman memanjat. Saat di temukan di alam
aslinya, tanaman ini memanjat pada batang tanaman lain di hutan yang teduh.
Walaupun perakarannya ditanah dicabut, tanaman ini tetap hidup sebagai tanaman
epifit karena kebutuhan makanannya juga dapat diperoleh dari udara pada
batangnya.
Secara morfologis, tanaman ini termasuk tanaman tidak lengkap karena
tidak memiliki daun. Berikut ini merupakan morfologi dari tanaman buah naga:
a.
Akar
Gambar
1. Akar epifit pada tanaman buah naga
b.
Batang dan Cabang
Gambar 2. Batang dan cabang
Gambar 3. Duri tanaman naga
Dari batang dan cabang tumbuh duri-duri yang keras,
tetapi sangat pendek sehingga tidak mencolok. Biasanya jumlah duri pada
disetiap titik tumbuh pada batang sekitar 4-5 buah. Letak duri tersebut pada
tepi siku-siku batang maupun cabang (Kristanto, 2009).
c. Bunga
Bunga
tanaman buah naga berbentuk seperti terompet, mahkota bunga bagian luar
berwarna krem dan mahkota bunga bagian dalam berwarna putih. Bunga memiliki
sejumlah benang sari (sel kelamin jantan) yang berwarna kuning. Bunga buah naga
tergolong dalam bunga hermaprodit, yaitu dalam satu bunga terdapat benang sari
dan putik. Bunga muncul atau tumbuh di sepanjang batang dibagian punggung sirip
yang berduri. Sehingga dengan demikian, pada satu ruas batang tumbuh bunga yang
berjumlah banyak dan tangkai bunga yang sangat pendek (Cahyono, 2009).
Gambar 4. Bunga tanaman naga
d.
Buah
Gambar 5. Buah naga
e.
Biji
Biji merupakan organ
perkembangiakan, tetapi jarang digunakan. Umumnya biji hanya digunakan
dikalangan peneliti dalam upaya mencari varietas baru karena dibutuhkan waktu
relatif lama untuk mendapatkan tanaman berproduktif. Setiap buah terdapat 1.200
sampai 2.300 biji (Kristanto, 2009).
2.2 Jenis Tanaman Buah
Naga
Menurut Warisno, buah
naga tidak hanya merujuk pada satu jenis tanaman saja, melainkan pada beberapa
spesies terutama genus Hylocereus. Beberapa
spesies yang disebut sebagai
buah
naga
yaitu:
1. Hylocereus undatus
Buah naga jenis ini banyak di tanam di Indonesia dan
sering disebut dengan buah naga putih. Tanaman buah naga ini memiliki kulit
buah berwarna merah dengan bagian tangkai berwarna hijau atau merah. Ukuran
buah besar dengan panjang 15-22 cm dengan bobot buah 300-800 gram. Daging buah
berwarna putih, beraroma harum, dan rasanya enak.
Gambar
8. Hylocereus undatus
2. Hylocereus costaricensis
Tanaman buah naga jenis ini memiliki kulit merah serta
deging buah yang juga berwarna merah, bertekstur lembut, dan manis. Buah naga
jenis ini memiliki bobot 150-400 gram/buah.
Gambar
9. Hylocereus costaricensis
3. Selenicereus megalanthus
Berbeda dengan jenis Hylocereus undatus dan Hylocereus costaricensis, warna kulit buah Selenicereus megalanthus adalah kuning
kehijauan. Sedangkan dagingnya berwrna putih seperti pada jenis Hylocereus undatus. Bobot buahnya lebih
kecil yaitu 80-100 gram/buah.
Gambar
10. Selenicereus megalanthus
2.3 Syarat Tumbuh Tanaman
Naga
2.3.1
Iklim
Tanaman buah naga merupakan tanaman tropis dan sangat mudah beradaptasi
terhadap lingkungan tumbuh dan perubahan cuaca seperti sinar matahari, angin,
dan curah hujan. Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman ini adalah
sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini
akan lebih baik bila hidup di dataran rendah antara 0-350 m dpl. Suhu udara
yang ideal bagi tanaman buah naga ini antara 26°-36° C dan kelembapan antara
70-90 % (Rukmana, 2003).
Tanaman buah naga merah dan putih dapat tumbuh dengan baik dan lebat
serta rasanya manis memerlukan penyinaran matahari langsung setiap hari
(minimal 8 jam sehari). Berkurangnya intensitas penyinaran yang diterima akibat
ternaungi gedung/ bangunan atau tanaman lain maka pertumbuhan tanaman dan
produksinya tidak maksimal (Cahyono, 2009).
Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman ini adalah sekitar 60
mm/bulan atau 720 mm/tahun. Pada curah hujan 600-1.300 mm/tahun pun tanaman ini
masih dapat tumbuh. Namun, tanaman ini tidak tahan dengan genangan air. Hujan
yang terlalu deras dan berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan yang ditandai
dengan proses pembusukan akar yang terlalu cepat dan akhirnya merambat sampai
ke pangkal batang. Sementara intensitas sinar matahari yang disukai antara 70%
- 80% (Kristanto, 2009).
2.3.2
Ketinggian Tempat dan Tanah
Menurut Cahyono (2009), ketinggian tempat untuk pembudidayaan buah naga
merah dan putih yaitu dataran rendah sampai medium yang berkisar 0 m – 500 m
dpl, yang ideal adalah kurang dari 400 m dpl. Di daerah pada ketinggian 500 m
dpl, buah naga merah dan putih masih dapat tumbuh dengan baik dan berbuah,
namun buahnya tidak lebat dan rasa
buahnya kurang manis. Untuk buah naga kuning, ketinggian tempat yang cocok untuk
pertumbuhan dan berproduksi adalah di atas 800 m dpl (dataran tinggi atau
pegunungan).
Struktur tanah yang gembur juga meninggkatkan drainase tanah sehingga
dapat mencegah genangan air. Jika drainase tanah baik, maka seluruh kehidupan
yang berada di bawah tanah berjalan dengan baik dan tanaman dapat tumbuh dengan
subur dan berproduksi (Cahyono, 2009).
2.3 Manfaat Buah Naga
Selain
dapat di jadikan hiasan, tanaman buah naga ini kaya akan manfaat, berikut
kandungan gizi yang terdapat pada buah naga:
Tabel 2.1
Kandung gizi pada buah naga
No.
|
Kandungan
|
Per 100
gram daging buah
|
||
Hylocereus
undatus
|
Hylocereus
costaricensis
|
Selenicereus
megalanthus
|
||
1.
|
Air (g)
|
89.4
|
82.5 – 83.0
|
85.4
|
2.
|
Protein (g)
|
0.5
|
0.16 – 0.23
|
0.4
|
3.
|
Lemak (g)
|
0.1
|
0.21 – 0.61
|
0.1
|
4.
|
Serat kasar (g)
|
0.3
|
0.70 – 0.90
|
0.5
|
5.
|
Abu (g)
|
0.5
|
0.28
|
0.4
|
6.
|
Kalsium (mg)
|
6.0
|
6.30 – 8.80
|
10.0
|
7.
|
Fosfor (mg)
|
19.0
|
30.2 – 36.1
|
16.0
|
8.
|
Besi (mg)
|
0.4
|
0.55 – 0.65
|
0.3
|
9.
|
Karoten (mg)
|
-
|
Sangat sedikit
|
-
|
10.
|
Thiamin (mg)
|
-
|
Sangat sedikit
|
-
|
11.
|
Riboflavin (mg)
|
-
|
Sangat sedikit
|
-
|
12.
|
Niasin (mg)
|
0.2
|
1.29 – 1.30
|
0.2
|
13.
|
Vitamin C (mg)
|
25.0
|
8.00 – 9.00
|
4.0
|
14.
|
Tingkat Kemanisan (brix)
|
11 – 19
|
Tidak diketahui
|
Tidak diketahui
|
15.
|
Nilai pH
|
4.7 – 5.1
|
Tidak diketahui
|
Tidak diketahui
|
Sumber:
diolah dari berbagai sumber
Beberapa kandungan gizi buah naga yang
penting bagi kesehatan adalah vitamin C. Serat dari buah naga dibutuhkan untuk
menurunkan kolesterol. Di dalam saluran pencernaan, serat akan berfungsi
mengikat asam empedu untuk kemudian dikeluarkan bersama dengan tinja. Oleh
karenanya, semakin tinggi konsumsi serat maka semakin asam empedu dan lemak
yang dikeluarkan oleh tubuh. Selain itu, buah naga ini dapat mengobati
sembelit, hipertensi, dan memperhalus kulit wajah.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan yang
berbentuk deskriptif dengan cara wawancara dan mendata langsung di lokasi
penelitian. Jenis penelitin yang digunakan adalah penelitian survei dengan metode
jelajah dan mengamati langsung ke lokasi penelitian.
3.2 Waktu dan Tempat
Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di Desa Ujong Blang Kecamatan Kuala Raja Kabupaten Bireuen. Penelitian
ini berlangsung pada hari Minggu, tanggal 14 Desember 2014.
3.3 Alat dan Bahan
Penelitian
Alat
dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku catatan, kamera
digital, peralatan alat tulis lainnya, dan Buku panduan Pintar Bertanam Buah Naga di Kebun, di pekarangan, dan dalam Pot karangan
Warisno.
3.4 Prosedur Penelitian
a.
Penentuan
Lokasi Kegiatan
Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja dengan alasan di
Desa Ujong Blang merupakan salah satu sentra pembudidayaan buah naga super red,
sehingga penulis dapat memperoleh pengetahuan, informasi-informasi serta
pengalaman mengenai teknik budidaya buah naga super red ini.
b.
Teknik
Pengumpulan data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam pelaksanaan mini research ini adalah:
1.
Wawancara,
merupakan proses untuk memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab langsung
antara pewawancara dengan koresponden.
2. Observasi,
yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap
obyek yang diteliti.
3.
Studi
Pustaka, merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan memanfaatkan data yang
tersedia yang berhubungan dengan kegiatan peneliti. Data tersebut dapat berupa
buku, jurnal, atau referensi lainnya yang bersifat informative dan berhubungan
dengan penelitian.
c.
Jenis
dan Sumber Data
1.
Data
Primer, data yang diperoleh peneliti langsung dari responden dengan cara
wawancara.
2.
Data
Sekunder, data yang dipeoleh peneliti dari buku, jurnal atau bahan referensi
lainnya.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Petani
Bapak Syabuddin merupakan warga asli Bireuen, beliau tinggal di kota
Bireuen dan lahan perkebunannya ada di desa Ujong Blang Mesjid. Beliau telah
membudidayakan tanaman buah naga super red sejak 2013 yang lalu. Awal
ketertarikan bapak ini untuk membudidayakan buah naga melalui petani-petani
yang terlebih dahulu menanamnya. Karena harga jual buah yang tinggi, masih
langka di wilayah Bireuen, serta daya tarik akan keeksotikan dan kelezatan buah
yang kaya gizi ini semakin memperkuat untuk membudidayakan tanaman unik ini.
Dengan luas lahan sekitar 3.000 m, Bapak Syabuddin mulai menanam 40 stek
naga super red, yang ditanam menjadi 10 tiang. Hasil panen pertama di konsumsi
secara pribadi bersama keluarga, selanjutnya jika ada yang memesan baru dijual
dengan harga Rp. 50.000/kg. Tahun selanjutnya, penambahan produksi sebanyak 560
stek yang berarti dari 40 stek menjadi 600 stek atau 150 tiang. Sejauh ini beliau
masih membudidayakan tanaman buah naga sendirian (tanpa pekerja).
4.2 Budidaya Tanaman Buah Naga Super Red
4.2.1 Persiapan Lahan
Gambar
11. Lahan tanaman naga
4.2.2 Pembibitan
Perbanyakan
tanaman merupakan hal yang paling pokok dalam pembudidayaan, baik itu
sayur-sayuran atau buah-buahan. Pembibitan buah naga dapat dilakukan dengan 2
cara yaitu, secara vegetatif dan generatif. Cara vegetatif ialah dengan
menggunakan biji. Meskipun hasil tanaman dengan biji lebih menjamin bibit yang
seragam serta perakarannya, namun sistem ini jarang dipakai kerena relatif
lama. Petani tanaman naga di luar daerah biasanya menggunakan cara vegetatif,
yakni dengan stek batang, demikian pula dengan Bapak Syabuddin.
Gambar
12. Bibit yang distek
4.2.3 Persiapan Tiang Rambatan
Tiang rambatan tanaman naga dapat berupa kayu, atau batang tanaman namun
karena penggunaan batang pohon atau kayu tidak tahan lama maka petani
berinisiatif membuat tiang rambatan dari beton. Jumlah tiang rambatan yang
disediakan adalah 150 tiang. Panjang tiang 1½ m, dengan
acuan 10 cm ditanam ke dalam tanah. Sedangkan bagian lingkaran ujung beton
dipasang ban bekas, dengan 2 batang besi sebagai penyangganya yang dipasang
pada beton dengan menyilang.
Gambar
13. Tiang rambatan untuk tanaman buah naga
4.2.4 Pelaksanaan Penanaman
Pada
lubang tanam beton yang tersisa diisi dengan pasir sebanyak 10 kg – 20 kg dan
tanah secukupnya. Kemudian ditanam bibit naga dari hasil stek sebanyak 4 batang
di sekeliling tiang dengan jarak tanam 5 – 10 cm dari tiang.
4.2.5 Perawatan Tanaman
1.
Pengikatan Batang/Cabang
Pengikatan
tanaman pada tiang beton dilakukan pertama kali langsung pada saat tanam.
Kemudian setiap kali tumbuh ruas baru atau bila batang bertambah 40 – 50 cm
agar tidak menjuntai dan patah. Hal ini biasanya terjadi 3 – 4 minggu.
2.
Pengairan (Penyiraman)
Penyiraman
buah naga dilakukan secara bervariasi tergantung musim yang sedang berjalan.
Pada musim kemarau biasanya Bapak Syabuddin melakukan penyiraman seminggu
sekali, sedangkan pada musim penghujan seperti sekarang ini, beliau melakukan
penyiraman 2 minggu sekali. Untuk hasil yang lebih efektif, beliau menyarankan
penyiraman dilakukan sehari sekali dengan dosis disesuaikan.
Untuk memudahkan
penyiraman, biasanya petani buah naga menggenai air pada parit yang berada pada
bendengan buah naga. Namun Bapak Syabuddin masih dapat menjangkau penyiraman
setiap 2 minggu sekali dengan menggunakan sistem pengairan pipa.
3. Pemupukan
Pemupukan dilakukan sebanyak 4 kali setahun, dan di
ulangi setiap 3 bulan sekali. Jenis pupuk yang dipakai beragam, namun yang
biasa dipakai oleh Bapak syabuddin antara lain pupuk cair kuda laut, 2A, dan Petrogersi.
Untuk pupuk cair kuda laut, pemupukannya dilakukan sebanyak 3 kali dalam
sebulan.
4. Pemangkasan
Perawatan
tanaman buah naga yang selanjutnya adalah pemangkasan. Pemangkasan merupakan
serangkaian kegiatan membuang cabang/batang guna memperoleh keseimbang dalam
produktivitas tanaman. Bapak Syabuddin biasanya melakukan pemangkasan pada
pergantian musim kemarau ke musim penghujan, yakni September – November. Pada
bulan tersebut tanaman dikatakan mengalami masa stress karena pada bulan –
bulan tersebut tanaman tidak berbunga dan tidak berbuah. Pemangkasan dilakukan
pada pilar buah yang sudah tua dan biasanya, hasil dari pemangkasan dijadikan
bibit baru untuk tanaman buah naga.
5.
Penyiangan
Perawatan
yang terakhir adalah penyiangan. Penyiangan ini dilakukan petani tidak pasti
waktunya. Karena tanaman atau rumput yang ada di lahan tidak mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan tanaman. Penyiangan dilakukan ketika rumput atau tanaman kecil
yang tumbuh di sekitar tanaman utama sudah terlihat lebat. Hasil penyiangan ini
biasanya dijadikan sebagai pupuk.
4.2.6 Mengenal Pembungaan, Pembuahan, dan Panen Buah
Berbeda dengan buah naga putih, buah naga super red yang di budidayakan
oleh Bapak Syabuddin dapat di panen lebih cepat, yaitu 3 atau 4 bulan sekali.
Bunga mulai muncul pada batang setelah batang/cabang menjulur ke bawah. Di
awali dengan tumbuh bunga, 2-3 minggu kemudian mulai mekar. Sepuluh hari mulai
nampak bakal buah. Buah naga sudah mulai bisa di petik dengan tanda buah telah
berwarna merah, dan dapat di panen setelah warna merahnya penuh.
4.2.7 Hama dan Penyakit
Setiap
tanaman budidaya pasti memiliki berbagai macam kendala-kendala, diantaranya
adalah hama dan penyakit. Hama yang sering menjadi kendala bagi tanaman
budidaya Bapak Syabuddin ini adalah keong, tungau, dan penyakit batang busuk.
Untuk penanganannya hama biasanya dipakai pestisida jenis quarter dengan cara
membubuhkan setiapk tiang sebanyak 1 sendok.
Selain gangguan hama dan penyakit,
pencurian terhadap buah naga juga menjadi salah satu kendala yang cukup
mengganggu. Menurut Bapak Syabuddin, pencurian buah naga itu terjadi karena
nilai jual buah eksotik tersebut yang lumayan tinggi. Satu kilo buah naga
mencapai Rp. 50.000 – Rp. 80.000 dengan jumlah 2 buah/kilo.
Gambar
14. Hama dan penyakit
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Budidaya
tanaman buah naga di Desa Ujong Blang Mesjid Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen
oleh Bapak Syabuddin terdiri atas persiapan lahan, pembibitan, pemasangan tiang
rambatan, pelaksanaan penanaman, perawatan tanaman yang dimulai dari pengikatan
batang/cabang, pengairan, pemupukan, pemangkasan, penyiangan, pengenalan
terrhadap pembungan, pembuahan, dan kapan waktu panen, serta penanggulang hama.
5.2 Saran
1.
Semoga
laporan penelitian mini research ini dapat memberikan pengetahuan dan
pengalaman kerja praktis bagi mahasiswa guna membentuk kesiapan menghadapi
dunia kerja khususnya pada kegiatan kewirausahaan serta penciptaan lapangan
kerja.
2.
Untuk
memperluas pengetahuan serta wawasan dalam menerapkan ilmu yang dipelajarin
serta kaitannya dengan bidang ilmu lainnya
3.
Laporan
Penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, kritik dan saran yang membangun
sangat penulis perlu dan harapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Cahyono,
B. Buku Terlengkap Sukses Bertanam Buah
Naga. Jakarta: Pustaka Mina.
Kristanto, Daniel. 2009. Buah Naga
Pembudidayaan di Pot dan di kebun. Edisi revisi. Bogor: Penebar Swadaya.
Rukmana. 2003. Kaktus. Cet 5.
Kanisius: Yogyakarta.
Warisno, & Kres Dahana. Buku Pintar Bertanam Buah Naga di Kebun, di
pekarangan, dan dalam Pot. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.














No comments:
Post a Comment