Mungkin hujan mampu mengkamuflasekan air matamu, tapi
hujan tidak akan pernah mengkamuflasekan tawa diwajahmu._Una JF.
Mendung mengitari Juli jauh sebelum senja. Perlahan
kutengadahkan kepala menatap langit. cess cess cess.. hujan datang lagi.
Senyumku mengembang dan dengan gerakan sigap kuraih setelan oblong kucel yang
tersimpan apik di dalam lemari. Kling!! Oblong kucel kini meriasi tubuhku.
Tanpa alas kaki aku berlari ke halaman depan. Membiarkan hujan menyapu seluruh
wajahku. Hmmmmmmm,, segarnya. Kuhirup aroma petrichor, parfum semesta yang
tidak pernah terlupakan.
Kalian tau apa itu petrichor? Petrichor adalah istilah untuk bau tanah
setelah hujan. Dulu aku selalu penasaran bagaimana aroma ini bisa muncul.
Sekarang aku tau kalau aroma itu berasal dari uapan minyak dari tubuh tumbuhan
yang berkumpul dipermukaan tanah dan senyawa kimia Geosmin yang dilepaskan oleh
jasad mikroba Cyanobacteria dan Actinobacteria yang bereaksi
dengan sentuhan hujan. Saat hujan menerpa, geosmin terangkat ke udara dan
memunculkan aerosol partikel geosmin dalam udara. Dan ini mutlak menjadi bau
khas hujan, ngak ada satupun parfum yang bisa ngalahin aroma hujan.
Sebagian orang kerap membenci hujan, “hujan itu bikin
kita cengeng” “hujan itu bikin planing sama someone berantakan”, “hujan itu
identik dengan luka, air mata”, “hujan begini hujan begitu”.
Yaaa memang banyak cerita menyedihkan dibalik rintikan
hujan tapi hujan itu tidak melulu berbalut nuansa melankolis dengan tangis dan
tatapan kosong melompong. Bagi para Pluviophile hujan itu adalah titik-titik
kecil yang menyegarkan. Hujan adalah perekam kenangan. Dan sudah pasti hujan
itu adalah anugerah sang Maha Khalik. Segala tentang hujan itu begitu indah. Dan
kini hujan semakin meresap dalam diriku dan petrichor kian menghipnotis,
meresonansikan memori masa kecil yang menyenangkan.
***
Lengking tawa ceria terdengar diselasela hujan yang
mengguyur. Tiga bocah mengendap-ngendap menuju pekarangan dan kemudian
berlari-lari kecil menyusuri rerintik yang menderas. Mereka adalah trio
bersaudara yang memiliki hasrat ingin tau yang luar biasa, yang terkadang bikin
keluarga geleng-geleng kepala. Trio bersaudara yang selalu kegirangan saat
bulir bulir kecil berjatuhan dari atap langit.
Ya trio bersaudara itu adalah aku dan kedua saudaraku.
Dulu kami adalah pencinta hujan, trio pluviophile. Dulu, jauh sebelum usia
mulai jadi pembeda. Namun aku tetaplah sama.
Masih segar dalam ingatan sebuah moment saat binar
mata petualang mulai menjalari fikiran kami. Saat kakak pertama memberi komando
“Kali ini kita akan bersenang-senang bersama hujan,
seperti biasanya. Tapi kali ini kita mainnya agak jauh. Ingat jangan
bilang-bilang sama mama ya”
Dan saat itulah kami akan berlari mengelilingi tanah
lapang di belakang rumah, melompat-lompat seperti terkena sydrom kodokisme, dan
meluncur di atas rerumput yang penuh dengan air. Berkejaran dan saling
menendang nendang genangan air. Saling berbagi ciprakan keceriaan. Semakin
deras hujan mengguyur semakin menambah seru perjalanan hujan-hujananan kami.
Kami kembali berlari menuju ke arah persawahan, sebuah
jembatan di dekat bukit menjadi sasaran kami. Jalan setapak kami susuri hanya
bertelanjang kaki, kerikil kerikil halus sesekali terasa membuat kami berjingkrak
jingkrak tak karuan. Tapi itu justru semakin menyenangkan. Apalagi sambil
menikmati aliran air di sepanjang parit dipinggir jalan.
Dedaunan yang hanyut terbawa aliran air seperti sebuah
perahu tanpa nahkoda. Sesekali berhenti karena terhalang plastik bekas hingga akhirnya hilang ke dalam perumahan
hijau oriza sativa, dan mungkin bertemu dengan keong atau
kecebong. Ada juga yang tersangkut tak berkutik bersama ribuan sampah organik
bahkan anorganik.
Tiba di bawah jembatan kami mengamati segerombolan
tanaman Eichhornia crassipes. Ikan-ikan
kecil bersembunyi dibalik tanaman air tersebut, sesekali mengintip keluar,
mungkin ingin turut mencicipi rerintik hujan.
Lumayan lama kami habiskan waktu dengan mengamati
ikan-ikan kecil tersebut hingga hujan menyisakan gerimis dan pandangan kami pun
menangkap sesuatu yang mengejutkan. Itu mama.. dari kejauhan dengan jas hujan
lengkap dengan payung juga. (Hehe.. rasanya lucu melihat seragam mama saat itu.
Komplit.) dan tanpa ba bi bu kaki langsung melangkah seribu, melesat ke area
pematang sawah dan memutari bukit kecil berharap mama tidak melihat. Naas buat
kami, ternyata mama sudah menghadang dengan tatapan yang sulit untuk
dijelaskan. Hari itu kami mendapat siraman lain selain hujan. Haha.. Kami dimandikan
dengan omelan yang sangattt panjang. Dan hari itu kali pertama kami mendapat
pukulan dari mama, sedih sih tapi itu karena mama sangat khawatir dan sayang
dengan anak-anaknya. Dan kami bertekad tidak bermain hujan-hujanan jauh dari rumah lagi, meskipun pada kenyataan
hari-hari berikutnya tekad kami menguap begitu saja. Hihi.. namanya saja masih
bocah.
Tak terasa begitu lama aku merasakan hujan hingga sebuah
teriakan melenyapkan lamunanku. Ternyata mama. Aku tersenyum jahil seraya
mendekatinya, tak lupa kuhadiahi ciprakan hujan ke wajahnya dan omelanpun
berdendang di telingaku. Haha. Dia tak pernah berubah.
Secangkir Hujan, 2016
1 comment:
Hmm.... Hujan dimatamu....
Post a Comment