HA TI (Part 1)


Cuaca hari ini begitu menggila. Membuat daun-daun kering kerontang kehilangan keceriaan. Panasnya terasa hingga keubun-ubun. Keningku mengerut dengan mata yang ikut menyipit, pandangan terus menunduk dengan tangan berusaha menutupi ganasnya terpaan sang raja siang. Sesekali kuarahkan pandangan kedepan agar tidak menabrak sesuatu yang membahayakan diriku. Kupercepat derap langkahku menelusuri toko demi toko. Keringat mulai mengucur tak karuan, rasa gerah dan haus terpaksa kuacuhkan. Aku harus segera membeli beberapa buku untuk keperluan kuliah dan sebentar lagi ada matakuliah yang harus aku persentasikan.

Begitu tiba di tempat yang kutuju, tanpa banyak ba-bi-bu langsung saja kucari buku yang kuperlukan. Setelah kutemukan apa yang ku incar langsung saja kulangkahkan kembali kakiku. Sekarang aku benar-benar kehausan, butuh minuman sebelum dehidrasi ini benar-benar membunuhku. Kuputuskan mencari  minuman yang murah meriah, sesuai dengan kantongku tentunya. “wah, pas sekali ada es campur,” seruku kegirangan.
“Bang, es campurnya donk.”
“minum disini neng?,” tanya abang penjual es campur.
“eh, hmmm... enggak bang. Bungkus aja”. Si penjual  manggut-manggut lalu mempersilahkan aku duduk di tempat yang sudah disediakan. “duduk dulu neng, sambil nunggu es campurnya,”tawarnya dengan ramah.

Setelah pesananku siap buru-buru kusodorkan uang lima ribuan dan  beranjak menuju kampus. Namun belum begitu jauh aku beranjak dari tempat tadi tiba-tiba mataku menangkap sesosok manusia yang sangat kukenal di seberang jalan sana.Kupicingkan mataku, memastikan apa yang kulihat. soalnya lumayan jauh juga sich. Dan kurasa itu Dion, kekasihku. Pria berwajah lumayan tampan (menurut cewe-cewe sih, kecuali aku. Tapi kok kepicut yach..? hehe, tauk ah gelap.. :P). Dion memiliki kulit yang tidak terlalu putih tapi cukup bersih, dengan tinggi badan yang benar-benar mengalahkan aku yang bonsai ini. Hiks. Miris.

Ku lihat dia sedang bersandar disisi motor maticnya. Untuk apa dia disini?,” gumanku sendiri. Sepertinya sedang menunggu seseorang. Ingin sekali aku menghampirinya, mengingat kami yang jarang bertemu dikarenakan kota kami yang memang berbeda dan kesibukan masing-masing. Kulirik jam yang melingkar di tanganku, 30 menit lagi. “Ah, tak apa lah telat sedikit”. Kuputuskan untuk menemuinya walau hanya sebentar, tetapi aku terlambat dia sudah melaju dengan maticnya. Dan,,, ya Tuhanku, siapa perempuan yang diboncenginya. Tangan perempuan itu melingkarerat dipinggangnya. Sangat mesra. Mataku melotot tak percaya dengan apa yang kulihat. Diam mematung dengan gejolak yang tak jelas.

“ah, tidak tidak tidak.. aku pasti salah lihat. Lagipula jaraknya pun jauh. Bisa jadi lelaki tadi punya kemiripan dengan Dion. Muka seperti dia kan pasaran.hihi. Atau aku yang sedang berhalusinasi karena terlalu merindukannya. Ya, kurasa itu tepat,” kuyakinkan hatiku dengan pikiran-pikiran positif.
Kutoleh jam di tangan. “yak, aku bisa terlambat bagaimana ini,” pekikku kaget. Bergegas kupercepat langkahku, hampir setengah berlari.
***
Hari yang melelahkan. Dengan sejuta penat yang kian menumpuk. Persentasiku siang ini kurang memuaskan. Ya sudahlah mau gimana lagi, udah begitu. Ahh, rasanya aku ingin segera pulang, membenamkan wajah dan segala gelisah yang menyelimuti. Namun langkahku tertahan oleh sebuah teriakan. Sangat khas dan sangat amat cempreng.

“Tiaaaaaa...Mutiaraaaaaa.....tungguuin donkkk...!!,” kulihat Dini berlari kearahku diikuti oleh Hardi. Mereka berdua sahabatku sejak jamannya putih abu-abu dulu. Kami berada di Universitas yang sama, Cuma berbeda jurusan. Dini dan Hardi di bidang management sedangkan aku lebih memilih Sastra.

Wah kasihan sekali  sampai ngosh-ngoshan begitu. Aku Cuma geleng-geleng kepala. Dasar.
“kalian kenapa sih? Dikejar setan?,” semburku sekenanya.
“ngak. Justru kita yang lagi ngejar setan,” jawab Hardi masih dengar nafas tersenggal senggol, eh tersenggal-senggal maksudnya.
“what??!! Loe ngatai gue setan hah?” PLETAKKK... sebuah jitakan kudaratkan di kepala Hardi. Sangat perfect.
“yakk, sakit setan!!”
“hah?? Setan?! Masih berani kamu ya,” aku sudah siap dengan jitakan yang maha dasyatnya begitupun hardi sudah siap dengan kuda-kudanya.

“woooiiiiiiii,, bisa ngak sih ngak ributttt?? Pusing Dini dengernyaaa!!!! Dini cape dari ujung sono manggil-manggil Tia ngak denger. Dan sekarang Hardi ama Tia berantem ngak jelas gitu. Please deh, bisa ngak kalo ketemu kalian tu ngak kek Tom and jerry hah hah hah???!!” ucap dini tak kalah berapi-api.

Seketika aku dan Hardi menghentikan aksi kami. Secara bersamaan kami memandang Dini. Takjub. Ngak nyangka kecil-kecil suaranya cetar membahana gitu.
“kalian berdua tu ngak berubah. Kayak anak kecil. Kalau jumpa pasti ribut dulu. Kapan sih dewasanya”. Kata-kata dini membuatku melongo begitu juga dengan Hardi. “sejak kapan ni anak bisa sebijak Mario teguh. Biasanya juga aku yang sering nasehatin dia”. Auk ah. Aku Cuma cengengesan seraya minta maaf. Kulirik Hardi sekilas, yang dilirik cuek saja. “napa sih ni orang,” batinku kesal.
“ck ck ck,, entah napa walo kalian sering ngak akur tapi lama-lama Dini lihat Tia sama Hardi terasi kocok deh kayaknya”
hah terasi kocok?! Masakan dari planet mana tuh?,” seruku dan Hardi berbarengan.
Nah kan. Jawabnya barengan. Sama pula. Hmm,, hmmm,” Dini manggut-mangut seperti dokter.

“apaan sih Dini,” sergahku tidak terima.
“iya kok. Kalian itu memang Terasi kocok. Serasi dan cocok gitu lho”
“uhueeekkk,, ngak salah denger ni? Gue ngak selera ma cewek bonsai,” Hardi menimpali, muka ku memerah seketika. “eh, Lu kira gue doyan ma cowo ceking kayak lu. Ngak level tau!!!,” sergahku tak kalah judes.

“tu kan mulai lagi deh,” Dini mulai pasrah. Bosan mungkin.
“Dini sih pake ngomong gitu. Kege er-an tuh si Tiang listrik”. Hardi menatapku tajam. “lagian Dini tau sendiri, Tiara itu udah punya Dion. Kita udah pacaran 3 tahun lebih. Ngak mungkin lah Tia ninggalin Dion yang baik dan naksir sama yang ceking-ceking kek gitu,” ucapku  sambil melirik Hardi sinis.

“huh, cowo playboy dibanggain!!”, desis Hardi. Intonasinya cukup kecil tapi aku bisa menangkapnya dengan jelas.
“Maksudnya apa? Helloo,, Har. Kamu itu kenapa sih? Semenjak aku jadian sama Dion omongan kamu dari hari ke hari makin pedes aja. Emangnya salah aku apa hah??!!,” amarahku memuncak. Kali ini Hardi keterlaluan, berani sekali dia menghina Dion.
“Huh.. kamu itu polos apa begok sih? Jadi yang tadi siang kamu lihat belum cukup?”
Deg!
“maksud kamu?”
“jadi kamu ngak ngerti juga? Cowo brengsek itu jalan sama cewe lain kamu belum ngerti juga? Huh?”. Aku terdiam.
“kenapa diam?,” tanyanya masih dengan intonasi meninggi.
“itu,, itu ak.. aku. Yak,, apa urusanmu. Lagipun itu tidak mungkin Dion. Dion bukan tipe cowok seeperti yang kamu tuduhkan. Bisa saja  orang itu mukanya mirip dengan Dion. Itukan bisa saja terjadi kan? Ya kan Din?” aku menjelaskan sambil meminta dukungan dari Dini. Namun kali ini Dini tidak memihakku.
“maaf Tiara. Dini bukannya ngak belain Tia. Tapi yang Hardi bilang itu memang benar. Itu memang si Dion. Dini juga lihat sendiri tadi. Bahkan sudah beberapa kali dia jalan de,, hmm dengannn,, “ jelas Dini takut-takut.
“dengan siapa?,” tuntutku cepat seraya mencengkeram bahu Dini.
“ Dengan Mawar. Anak FISIP. Sahabat kita waktu SMU dulu,” Hardi yang menjawab.
Glek. Kutelan ludahku sendiri. Sakit. “ bohong!!” kutatap mereka silih berganti berharap mereka menarik kembali perkataan tadi.  “Haha, kalian bohongkan. Kalian kenapa sih? ngak lucu tau”. Dini terlihat menunduk serba salah. Hardi terkekeh sinis. Har, kamu kenapa sih? ngak suka aku pacaran dengan Dion? Kenapa? Aku ini sahabat kalian apa bukah huh?,” kutatap Dini dengan tatapan membunuh, begitupun Hardi. Dini masih menunduk tidak berani menatapku. Hardi mulai gusar.
“Tia, ak..”
“cukup!!,” kupotong seketika ucapan Hardi. Aku tidak ingin mendengarkannya lagi. “kalian jahat”. Aku berlari meninggalkan kedua sahabatku. Tanpa terasa bulir-bulir bening berjatuhan.
***
Langit masih saja menyisakan tangis. Dan gelap perlahan-lahan mulai merajai. Udara dingin semakin menusuk-nusuk, menciptakan rasa nyeri yang tak terperi. Kugenggam erat bongkahan hati ini, berharap tak ada yang akan mengusiknya.

          Kulangkahkan sepasang kaki ini menuju peraduan malam. Merebahkan tubuh yang kelelahan seharian berpacu dengan kerasnya kehidupan. Perlahan kukatupkan kedua kelopak mataku dan berharap  sang mimpi segera membawaku terbang ke alamnya. Sedetik berlalu, menit pun mulai beranjak, jam ke jam mulai menghampiri namun kantuk tak kunjung juga mendekapku. “Ya Tuhanku, apa yang sebenarnya telah terjadi? Mengapa hatiku terasa ngilu seperti ini?,” lirihku tertatih. “ah, ini tidak mungkin. Aku yakin aku salah lihat. Dia tidak mungkin seperti itu. Aku pasti salah,” batinku kembali mempertegas. 

      Namun hati terus saja memaksaku dan otak  seolah-olah mendukungnya. Pengakuan kedua sahabatku tadi pun sangat kuat. Acchhh, mereka mengintimidasiku demgan bayang-bayang yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Kupeluk erat bantal berbentuk hati pemberian seseorang. Tak terasa bulir-bulir halus telah berjatuhan. Pertahanannya telah roboh.

"Secangkir Hujan"
***


No comments:

Entri yang Diunggulkan

Trio Pluviophile

Mungkin hujan mampu mengkamuflasekan air matamu, tapi hujan tidak akan pernah mengkamuflasekan tawa diwajahmu._Una JF. Mendung men...