Cuaca hari ini
begitu menggila. Membuat daun-daun kering kerontang kehilangan keceriaan.
Panasnya terasa hingga keubun-ubun. Keningku mengerut dengan mata yang ikut
menyipit, pandangan terus menunduk dengan tangan berusaha menutupi ganasnya
terpaan sang raja siang. Sesekali kuarahkan pandangan kedepan agar tidak
menabrak sesuatu yang membahayakan diriku. Kupercepat derap langkahku
menelusuri toko demi toko. Keringat mulai mengucur tak karuan, rasa gerah dan
haus terpaksa kuacuhkan. Aku harus segera membeli beberapa buku untuk keperluan
kuliah dan sebentar lagi ada matakuliah yang harus aku persentasikan.
Begitu tiba di
tempat yang kutuju, tanpa banyak ba-bi-bu langsung saja kucari buku yang
kuperlukan. Setelah kutemukan apa yang ku incar langsung saja kulangkahkan
kembali kakiku. Sekarang aku benar-benar kehausan, butuh minuman sebelum
dehidrasi ini benar-benar membunuhku. Kuputuskan mencari minuman yang murah meriah, sesuai dengan
kantongku tentunya. “wah, pas sekali ada es campur,” seruku kegirangan.
“Bang, es
campurnya donk.”
“minum disini neng?,”
tanya abang penjual es campur.
“eh, hmmm...
enggak bang. Bungkus aja”. Si penjual
manggut-manggut lalu mempersilahkan aku duduk di tempat yang sudah
disediakan. “duduk dulu neng, sambil nunggu es campurnya,”tawarnya dengan
ramah.
Setelah
pesananku siap buru-buru kusodorkan uang lima ribuan dan beranjak menuju kampus. Namun belum begitu
jauh aku beranjak dari tempat tadi tiba-tiba mataku menangkap sesosok manusia
yang sangat kukenal di seberang jalan sana.Kupicingkan mataku, memastikan apa
yang kulihat. soalnya lumayan jauh juga sich. Dan kurasa itu Dion, kekasihku.
Pria berwajah lumayan tampan (menurut cewe-cewe sih, kecuali aku. Tapi kok
kepicut yach..? hehe, tauk ah
gelap.. :P). Dion memiliki kulit yang tidak terlalu putih tapi cukup bersih,
dengan tinggi badan yang benar-benar mengalahkan aku yang bonsai ini. Hiks.
Miris.
Ku lihat dia
sedang bersandar disisi motor maticnya. Untuk apa dia disini?,” gumanku
sendiri. Sepertinya sedang menunggu seseorang. Ingin sekali aku menghampirinya,
mengingat kami yang jarang bertemu dikarenakan kota kami yang memang berbeda
dan kesibukan masing-masing. Kulirik jam yang melingkar di tanganku, 30 menit
lagi. “Ah, tak apa lah telat sedikit”. Kuputuskan untuk menemuinya walau hanya
sebentar, tetapi aku terlambat dia sudah melaju dengan maticnya. Dan,,, ya
Tuhanku, siapa perempuan yang diboncenginya. Tangan perempuan itu melingkarerat
dipinggangnya. Sangat mesra. Mataku melotot tak percaya dengan apa yang
kulihat. Diam mematung dengan gejolak yang tak jelas.
“ah, tidak tidak
tidak.. aku pasti salah lihat. Lagipula jaraknya pun jauh. Bisa jadi lelaki
tadi punya kemiripan dengan Dion. Muka seperti dia kan pasaran.hihi. Atau aku
yang sedang berhalusinasi karena terlalu merindukannya. Ya, kurasa itu tepat,”
kuyakinkan hatiku dengan pikiran-pikiran positif.
Kutoleh jam di
tangan. “yak, aku bisa terlambat bagaimana ini,” pekikku kaget. Bergegas
kupercepat langkahku, hampir setengah berlari.
***
Hari yang
melelahkan. Dengan sejuta penat yang kian menumpuk. Persentasiku siang ini
kurang memuaskan. Ya sudahlah mau gimana lagi, udah begitu. Ahh, rasanya aku
ingin segera pulang, membenamkan wajah dan segala gelisah yang menyelimuti.
Namun langkahku tertahan oleh sebuah teriakan. Sangat khas dan sangat amat
cempreng.
“Tiaaaaaa...Mutiaraaaaaa.....tungguuin
donkkk...!!,” kulihat Dini berlari
kearahku diikuti oleh Hardi. Mereka berdua sahabatku sejak jamannya putih
abu-abu dulu. Kami berada di Universitas yang sama, Cuma berbeda jurusan. Dini
dan Hardi di bidang management sedangkan aku lebih memilih Sastra.
Wah kasihan
sekali sampai ngosh-ngoshan begitu.
Aku
Cuma geleng-geleng kepala. Dasar.
“kalian kenapa
sih? Dikejar setan?,” semburku sekenanya.
“ngak. Justru
kita yang lagi ngejar setan,” jawab Hardi masih dengar nafas tersenggal
senggol, eh tersenggal-senggal maksudnya.
“what??!! Loe
ngatai gue setan hah?” PLETAKKK... sebuah jitakan kudaratkan di kepala Hardi.
Sangat perfect.
“yakk, sakit setan!!”
“hah?? Setan?! Masih
berani kamu ya,” aku sudah siap dengan jitakan yang maha dasyatnya begitupun
hardi sudah siap dengan kuda-kudanya.
“woooiiiiiiii,, bisa
ngak sih ngak ributttt?? Pusing Dini dengernyaaa!!!! Dini cape dari ujung sono
manggil-manggil Tia ngak denger. Dan sekarang Hardi ama Tia berantem ngak jelas
gitu. Please deh, bisa ngak kalo ketemu kalian tu ngak kek Tom and jerry hah
hah hah???!!” ucap dini tak kalah berapi-api.
Seketika aku dan Hardi
menghentikan aksi kami. Secara bersamaan kami memandang Dini. Takjub. Ngak
nyangka kecil-kecil suaranya cetar membahana gitu.
“kalian berdua tu ngak
berubah. Kayak anak kecil. Kalau jumpa pasti ribut dulu. Kapan sih dewasanya”.
Kata-kata dini membuatku melongo begitu juga dengan Hardi. “sejak kapan ni anak
bisa sebijak Mario teguh. Biasanya juga aku yang sering nasehatin dia”. Auk ah.
Aku Cuma cengengesan seraya minta maaf. Kulirik Hardi sekilas, yang dilirik
cuek saja. “napa sih ni orang,” batinku kesal.
“ck ck ck,, entah napa
walo kalian sering ngak akur tapi lama-lama Dini lihat Tia sama Hardi terasi
kocok deh kayaknya”
“hah terasi kocok?! Masakan
dari planet mana tuh?,”
seruku dan Hardi berbarengan.
“Nah kan. Jawabnya
barengan. Sama pula. Hmm,, hmmm,” Dini manggut-mangut seperti dokter.
“apaan sih Dini,”
sergahku tidak terima.
“iya kok. Kalian itu memang Terasi kocok.
Serasi dan cocok gitu lho”
“uhueeekkk,, ngak salah
denger ni? Gue ngak selera ma cewek bonsai,” Hardi menimpali, muka ku memerah
seketika. “eh, Lu kira gue doyan ma cowo ceking kayak lu. Ngak level tau!!!,”
sergahku tak kalah judes.
“tu kan mulai lagi
deh,” Dini mulai pasrah. Bosan mungkin.
“Dini sih pake ngomong
gitu. Kege er-an tuh si Tiang listrik”. Hardi menatapku tajam. “lagian Dini tau
sendiri, Tiara itu udah punya Dion. Kita udah pacaran 3 tahun lebih. Ngak
mungkin lah Tia ninggalin Dion yang baik dan naksir sama yang ceking-ceking kek
gitu,” ucapku sambil melirik Hardi
sinis.
“huh, cowo playboy
dibanggain!!”, desis Hardi. Intonasinya cukup kecil tapi aku bisa menangkapnya
dengan jelas.
“Maksudnya apa? Helloo,,
Har. Kamu itu kenapa sih? Semenjak aku jadian sama Dion omongan kamu dari hari
ke hari makin pedes aja. Emangnya salah aku apa hah??!!,” amarahku memuncak.
Kali ini Hardi keterlaluan, berani sekali dia menghina Dion.
“Huh.. kamu itu polos
apa begok sih? Jadi yang tadi siang kamu lihat belum cukup?”
Deg!
“maksud kamu?”
“jadi kamu ngak ngerti
juga? Cowo brengsek itu jalan sama cewe lain kamu belum ngerti juga? Huh?”. Aku
terdiam.
“kenapa diam?,”
tanyanya masih dengan intonasi meninggi.
“itu,, itu ak.. aku.
Yak,, apa urusanmu. Lagipun itu tidak mungkin Dion. Dion bukan tipe cowok
seeperti yang kamu tuduhkan. Bisa saja
orang itu mukanya mirip dengan Dion. Itukan bisa saja terjadi kan? Ya
kan Din?” aku menjelaskan sambil meminta dukungan dari Dini. Namun kali ini
Dini tidak memihakku.
“maaf Tiara. Dini
bukannya ngak belain Tia. Tapi yang Hardi bilang itu memang benar. Itu memang
si Dion. Dini juga lihat sendiri tadi. Bahkan sudah beberapa kali dia jalan
de,, hmm dengannn,, “ jelas Dini takut-takut.
“dengan siapa?,”
tuntutku cepat seraya mencengkeram bahu Dini.
“ Dengan Mawar. Anak FISIP. Sahabat kita waktu
SMU dulu,” Hardi yang menjawab.
Glek. Kutelan ludahku
sendiri. Sakit. “ bohong!!” kutatap mereka silih berganti berharap mereka
menarik kembali perkataan tadi. “Haha, kalian
bohongkan. Kalian kenapa sih? ngak lucu tau”. Dini terlihat menunduk serba
salah. Hardi terkekeh sinis. Har, kamu kenapa sih? ngak suka aku pacaran dengan
Dion? Kenapa? Aku ini sahabat kalian apa bukah huh?,” kutatap Dini dengan
tatapan membunuh, begitupun Hardi. Dini masih menunduk tidak berani menatapku.
Hardi mulai gusar.
“Tia, ak..”
“cukup!!,” kupotong
seketika ucapan Hardi. Aku tidak ingin mendengarkannya lagi. “kalian jahat”.
Aku berlari meninggalkan kedua sahabatku. Tanpa terasa bulir-bulir bening
berjatuhan.
***
Langit masih
saja menyisakan tangis. Dan gelap perlahan-lahan mulai merajai. Udara dingin
semakin menusuk-nusuk, menciptakan rasa nyeri yang tak terperi. Kugenggam erat
bongkahan hati ini, berharap tak ada yang akan mengusiknya.
Kulangkahkan sepasang kaki ini menuju peraduan malam.
Merebahkan tubuh yang kelelahan seharian berpacu dengan kerasnya kehidupan.
Perlahan kukatupkan
kedua kelopak mataku dan berharap sang
mimpi segera membawaku terbang ke alamnya. Sedetik berlalu, menit pun mulai
beranjak, jam ke jam mulai menghampiri namun kantuk tak kunjung juga
mendekapku. “Ya Tuhanku, apa yang sebenarnya telah terjadi? Mengapa hatiku
terasa ngilu seperti ini?,” lirihku tertatih. “ah, ini tidak mungkin. Aku yakin
aku salah lihat. Dia tidak mungkin seperti itu. Aku pasti salah,” batinku
kembali mempertegas.
Namun
hati terus saja memaksaku dan otak
seolah-olah mendukungnya. Pengakuan kedua sahabatku tadi pun sangat
kuat. Acchhh, mereka mengintimidasiku demgan bayang-bayang yang tak pernah
kubayangkan sebelumnya. Kupeluk
erat bantal berbentuk hati pemberian seseorang. Tak terasa bulir-bulir halus
telah berjatuhan. Pertahanannya telah roboh.
"Secangkir Hujan"
***
No comments:
Post a Comment