Malam telah datang menjemput namun ia masih enggan beranjak. Tatapannya
kosong menembus cakrawala malam. Ditatapnya selembar kanvas raksasa yang
bercoretkan bulan dan bintang-bintang yang berkelipan. Perlahan ia mengangkat
tangan mungilnya, hendak menggapai salah satu gemintang. Nihil. Ia pun menghela
nafas panjang. Kembali menatap gemintang dengan penuh kedukaan. Tuhan, sampai
kapan kerinduan ini terus mencekamnya. Melalui jendela tua ini tak hentinya ia
menatap, menanti sesuatu yang tak kunjung tiba.
Sayu-sayu terdengar suara perempuan paruh baya memanggil namanya. Dia
masih diam menatap langit. Tanpa ia sadari sebuah tangan membelai hangat
rambutnya yang terurai. Seulas senyum lembut turut menyerta, mencoba menambah
kehangatan di dinginnya malam. Dia tak kuasa jika tak membalas senyum hangat
itu, namun butiran bening perlahan merembes begitu saja. Didekapnya perempuan
paruh baya itu, berharap kehangatan menenangkannya. “Ibu, aku rindu ayah,”
isaknya pedih.
Perempuan paruh baya itu masih saja tersenyum, lembut. Dibelainya rambut
gadis mungilnya hingga isak si kecilnya menghilang bersama gelapnya malam.
Ditatapnya wajah mungil itu, wajah yang memendam kerinduan akan sang ayah. Jelas
terlihat lelah di tidurnya. Guratan wajah perempuan itu berubah seketika.
Senyum lembut yang beberapa menit yang lalu disugukan untuk si buah hati
tiba-tiba lenyap. Kini matanya berkaca-kaca. Dikecupnya perlahan kening
anaknya. Isaknya hampir pecah, namun di tahan agar tidak mengusik tidur anaknya.
Dingin malam kian bertambah, diselimuti tubuh anaknya sedang dia sendiri hanyut
dalam kenangan.
Flash back
Sesosok lelaki terlihat menenteng sebuah plastik hitam. Langkahnya
menuju sebuah gubuk tua yang sederhana. Tiba di depan pintu dengan segera di
ketuknya. Pintu terbuka perlahan, terlihat seorang perempuan paruh baya,
wajahnya tidak begitu cantik namun anggun menenangkan. Perempuan itu menyambut
hangat kedatangan lelaki yang tak lain adalah suaminya. Di raih plastik hitam
yang diberikan oleh suaminya, ternyata sekaleng susu dan sebungkus nasi.
Perempuan itu tersenyum memandangi suaminya yang duduk bersandar di sebuah
kursi. Namun suaminya tak bergeming, jelas telihat letih di wajahnya. Perempuan
itu paham, dan langsung menyodorkan segelas minuman. Lelaki itu meneguk minuman
yang diberikan istrinya dalam sekali teguk. Jelas sekali letihnya.
Hening sejenak. Lelaki itu menatap lekat wajah istrinya, kemudian
beralih pada sesosok gadis kecil yang terbaring pulas di sebuah dipan kecil. “Sudah
lama Bintang tidur, Bu?,” lelaki itu menanyakan Bintang, anaknya. “Belum lama,
Yah. Ia sibuk menghitung bintang di langit sambil menunggumu pulang,” jawab
perempuan itu seraya tersenyum. Hening kembali menguasai. Perempuan itu kini
berbaring disisi anaknya sedangkan suaminya masih saja terpaku dalam diam. Ada
sesuatu hal yang ingin ia sampaikan pada istrinya. Didekati istrinya yang belum
tertidur.
“Bu, ada yang ingin ayah sampaikan,” ucap lelaki itu memberanikan diri.
Istrinya tersenyum, menatap sang suami.
“Ada apa, yah? Katakan saja”
“bu, sebenarnya ayah lelah dengan kehidupan kita yang begini terus. Ayah
ingin lebih maju. Ayah ingin membahagiakan ibu dan Bintang, anak kita”.
Perempuan itu terus mendengar isi hati suaminya, ada gurat gundah perlahan
menyusup hatinya.
“Bu, aku ingin merantau ke kota lain. Berhuma tak cocok lagi dengan ku,”
akhir kalimat suaminya kini benar-benar membuat perempuan itu terhenyak. Ia tak
bergeming, hanya menunduk dalam diam.
“Bu, bukankah Tuhan akan memberikan keberkatan itu jika kita mau
menjemput keberkatan itu? Jadi tolong ijinkan ayah pergi. Ayah janji akan
pulang menjemput kalian berdua, ayah sangat sayang dengan kalian”.
Hati perempuan itu luluh sudah, ia rela suaminya menjemput keberkatan
itu. “baiklah jika memang begitu kehendak ayah, ibu rela ayah pergi,” lirih
perempuan itu menahan tangis. Malam kian terlelap, namun sepasang suami istri
ini masih larut dalam fikirannya masing-masing. Berharap keberkatan benar-benar
datang menemani hari esok mereka.
***
Dua tahun telah berlalu dengan kerinduan yang kian membesar. Seorang
perempuan terlihat sedang sibuk menggeluti pekerjaannya, memilah-milah kayu
bakar untuk di jual. Semenjak kepergian suaminya 2 tahun silam, penghidupannya
semakin terasa berat. Si mungilnya tumbuh tanpa kasih sayang, badannya kurus
dan tanpak lemah. Sering sakit-sakitan. Perempuan itu kian resah. Ditambah
lagi, Bintang, anaknya akhir-akhir ini sering menangis menunggu kedatangan ayahnya.
Setiap malam hatinya perih menyaksikan anaknya menatap bintang-bintang, bahkan
mencoba meraihnya. Dan ia akan semakin sedih saat ia tak mampu meraihnya.
Masih jelas teringat, saat itu bulan purnama bulat sempurna dan bintang
gemintang berjejeran di atas sana. Dengan suara mungilnya Bintang berkata, “Bu,
ayah bilang jika Bintang merindukan ayah, Bintang bisa menatap bintang
gemintang di langit dan membayangkan wajah ayah tersenyum pada Bintang. Ayah
juga bilang selagi menunggu ayah Bintang dapat menghitung gemintang
sebanyak-banyaknya, dan saat itu ayah akan segera pulang. Tapi Bu, kenapa ayah
tak kunjung pulang ya? Apa bintang yang Bintang hitung masih sedikit ya, Bu? Ahhh,,
Bintang rindu ayah, Bu”. Perempuan itu hanya bisa menahan sesak mendengar
ocehan anaknya.
***
Di istana reyot yang semakin tak terbentuk Bintang masih saja menatap
gemintang. Ia sibuk membayang wajah sang ayah yang entah bagaimana ia sendiri
hampir lupa. Ia hanya ingat ayahnya yang penuh kehangatan dan selalu setia
mendogengkan tentang jagad raya dan bintang gemintang. Dan kini tubuh si kecil
itu kian mengecil, sebagaimana pengharapannya yang ikut mengecil. Sudah
beberapa bulan ia sakit. Sudah banyak obat yang ia minum, dan sudah banyak uang
yang dihabiskan.
Malam ini tak ada obat, tak ada uang sepeserpun dan demamnya semakin mencapai klimaks. Namun ia masih memaksakan
diri menatap gemintang melalui jendela tua itu. Perempuan paruh baya itu
melirik wajah anaknya. Sakit rasanya. Ia mendekat dan membelai lembut rambut si
mungilnya. Mencoba merayu agar si buah hati segera tidur.
Akhirnya Bintang kelelahan, perlahan direbahkan tubuhnya. Perempuan
paruh baya itu mendekap erat tubuh anaknya. Mendendangkan simfoni kesedihan. Titik-titik
bening hangat mulai bermunculan. Malam pun kian larut, di dipan tak bertilam tubuh
mungil itu meringkuk kedinginan. Selimut lusuh menjadi teman tidur panjang.
Tangisan jangkrik tak terdengar lagi. Kelopak mata mengatup perlahan. Tubuhnya semakin
kaku. Bulan kian benderang dan gemintang
terus bersinar. Kanvas raksasa ini masih penuh dengan coretan yang tak
tergapai. Perempuan paruh baya itu tersenyum dalam tangis, namun senyumnya
tidak menghangatkan lagi. Getir.
*END*
"Secangkir Hujan"
No comments:
Post a Comment