Cerpen: Bintang Gemintang



Malam telah datang menjemput namun ia masih enggan beranjak. Tatapannya kosong menembus cakrawala malam. Ditatapnya selembar kanvas raksasa yang bercoretkan bulan dan bintang-bintang yang berkelipan. Perlahan ia mengangkat tangan mungilnya, hendak menggapai salah satu gemintang. Nihil. Ia pun menghela nafas panjang. Kembali menatap gemintang dengan penuh kedukaan. Tuhan, sampai kapan kerinduan ini terus mencekamnya. Melalui jendela tua ini tak hentinya ia menatap, menanti sesuatu yang tak kunjung tiba.

Sayu-sayu terdengar suara perempuan paruh baya memanggil namanya. Dia masih diam menatap langit. Tanpa ia sadari sebuah tangan membelai hangat rambutnya yang terurai. Seulas senyum lembut turut menyerta, mencoba menambah kehangatan di dinginnya malam. Dia tak kuasa jika tak membalas senyum hangat itu, namun butiran bening perlahan merembes begitu saja. Didekapnya perempuan paruh baya itu, berharap kehangatan menenangkannya. “Ibu, aku rindu ayah,” isaknya pedih.

Perempuan paruh baya itu masih saja tersenyum, lembut. Dibelainya rambut gadis mungilnya hingga isak si kecilnya menghilang bersama gelapnya malam. Ditatapnya wajah mungil itu, wajah yang memendam kerinduan akan sang ayah. Jelas terlihat lelah di tidurnya. Guratan wajah perempuan itu berubah seketika. Senyum lembut yang beberapa menit yang lalu disugukan untuk si buah hati tiba-tiba lenyap. Kini matanya berkaca-kaca. Dikecupnya perlahan kening anaknya. Isaknya hampir pecah, namun di tahan agar tidak mengusik tidur anaknya. Dingin malam kian bertambah, diselimuti tubuh anaknya sedang dia sendiri hanyut dalam kenangan.

Flash back
Sesosok lelaki terlihat menenteng sebuah plastik hitam. Langkahnya menuju sebuah gubuk tua yang sederhana. Tiba di depan pintu dengan segera di ketuknya. Pintu terbuka perlahan, terlihat seorang perempuan paruh baya, wajahnya tidak begitu cantik namun anggun menenangkan. Perempuan itu menyambut hangat kedatangan lelaki yang tak lain adalah suaminya. Di raih plastik hitam yang diberikan oleh suaminya, ternyata sekaleng susu dan sebungkus nasi. Perempuan itu tersenyum memandangi suaminya yang duduk bersandar di sebuah kursi. Namun suaminya tak bergeming, jelas telihat letih di wajahnya. Perempuan itu paham, dan langsung menyodorkan segelas minuman. Lelaki itu meneguk minuman yang diberikan istrinya dalam sekali teguk. Jelas sekali letihnya.

Hening sejenak. Lelaki itu menatap lekat wajah istrinya, kemudian beralih pada sesosok gadis kecil yang terbaring pulas di sebuah dipan kecil. “Sudah lama Bintang tidur, Bu?,” lelaki itu menanyakan Bintang, anaknya. “Belum lama, Yah. Ia sibuk menghitung bintang di langit sambil menunggumu pulang,” jawab perempuan itu seraya tersenyum. Hening kembali menguasai. Perempuan itu kini berbaring disisi anaknya sedangkan suaminya masih saja terpaku dalam diam. Ada sesuatu hal yang ingin ia sampaikan pada istrinya. Didekati istrinya yang belum tertidur.
“Bu, ada yang ingin ayah sampaikan,” ucap lelaki itu memberanikan diri. Istrinya tersenyum, menatap sang suami.
 “Ada apa, yah? Katakan saja”
“bu, sebenarnya ayah lelah dengan kehidupan kita yang begini terus. Ayah ingin lebih maju. Ayah ingin membahagiakan ibu dan Bintang, anak kita”. Perempuan itu terus mendengar isi hati suaminya, ada gurat gundah perlahan menyusup hatinya.
“Bu, aku ingin merantau ke kota lain. Berhuma tak cocok lagi dengan ku,” akhir kalimat suaminya kini benar-benar membuat perempuan itu terhenyak. Ia tak bergeming, hanya menunduk dalam diam.
“Bu, bukankah Tuhan akan memberikan keberkatan itu jika kita mau menjemput keberkatan itu? Jadi tolong ijinkan ayah pergi. Ayah janji akan pulang menjemput kalian berdua, ayah sangat sayang dengan kalian”.
Hati perempuan itu luluh sudah, ia rela suaminya menjemput keberkatan itu. “baiklah jika memang begitu kehendak ayah, ibu rela ayah pergi,” lirih perempuan itu menahan tangis. Malam kian terlelap, namun sepasang suami istri ini masih larut dalam fikirannya masing-masing. Berharap keberkatan benar-benar datang menemani hari esok mereka.
***
Dua tahun telah berlalu dengan kerinduan yang kian membesar. Seorang perempuan terlihat sedang sibuk menggeluti pekerjaannya, memilah-milah kayu bakar untuk di jual. Semenjak kepergian suaminya 2 tahun silam, penghidupannya semakin terasa berat. Si mungilnya tumbuh tanpa kasih sayang, badannya kurus dan tanpak lemah. Sering sakit-sakitan. Perempuan itu kian resah. Ditambah lagi, Bintang, anaknya akhir-akhir ini sering menangis menunggu kedatangan ayahnya. Setiap malam hatinya perih menyaksikan anaknya menatap bintang-bintang, bahkan mencoba meraihnya. Dan ia akan semakin sedih saat ia tak mampu meraihnya.

Masih jelas teringat, saat itu bulan purnama bulat sempurna dan bintang gemintang berjejeran di atas sana. Dengan suara mungilnya Bintang berkata, “Bu, ayah bilang jika Bintang merindukan ayah, Bintang bisa menatap bintang gemintang di langit dan membayangkan wajah ayah tersenyum pada Bintang. Ayah juga bilang selagi menunggu ayah Bintang dapat menghitung gemintang sebanyak-banyaknya, dan saat itu ayah akan segera pulang. Tapi Bu, kenapa ayah tak kunjung pulang ya? Apa bintang yang Bintang hitung masih sedikit ya, Bu? Ahhh,, Bintang rindu ayah, Bu”. Perempuan itu hanya bisa menahan sesak mendengar ocehan anaknya.
***
Di istana reyot yang semakin tak terbentuk Bintang masih saja menatap gemintang. Ia sibuk membayang wajah sang ayah yang entah bagaimana ia sendiri hampir lupa. Ia hanya ingat ayahnya yang penuh kehangatan dan selalu setia mendogengkan tentang jagad raya dan bintang gemintang. Dan kini tubuh si kecil itu kian mengecil, sebagaimana pengharapannya yang ikut mengecil. Sudah beberapa bulan ia sakit. Sudah banyak obat yang ia minum, dan sudah banyak uang yang dihabiskan.

Malam ini tak ada obat, tak ada uang sepeserpun dan demamnya semakin mencapai klimaks. Namun ia masih memaksakan diri menatap gemintang melalui jendela tua itu. Perempuan paruh baya itu melirik wajah anaknya. Sakit rasanya. Ia mendekat dan membelai lembut rambut si mungilnya. Mencoba merayu agar si buah hati segera tidur.

Akhirnya Bintang kelelahan, perlahan direbahkan tubuhnya. Perempuan paruh baya itu mendekap erat tubuh anaknya. Mendendangkan simfoni kesedihan. Titik-titik bening hangat mulai bermunculan. Malam pun kian larut, di dipan tak bertilam tubuh mungil itu meringkuk kedinginan. Selimut lusuh menjadi teman tidur panjang. Tangisan jangkrik tak terdengar lagi. Kelopak mata mengatup perlahan. Tubuhnya semakin kaku. Bulan kian benderang dan gemintang  terus bersinar. Kanvas raksasa ini masih penuh dengan coretan yang tak tergapai. Perempuan paruh baya itu tersenyum dalam tangis, namun senyumnya tidak menghangatkan lagi. Getir.
*END*
"Secangkir Hujan"

No comments:

Entri yang Diunggulkan

Trio Pluviophile

Mungkin hujan mampu mengkamuflasekan air matamu, tapi hujan tidak akan pernah mengkamuflasekan tawa diwajahmu._Una JF. Mendung men...